Peran Merchandise dalam Band Indie

Peran Merchandise dalam Band Indie

Sebuah band yang memutuskan untuk bergerak dalam arus belantika musik independen, mempunyai banyak kesulitan bila dibandingkan dengan band yang bergabung dengan major label. Pergerakan band indie yang semua langkahnya serba terbatas dan mengharuskannya mandiri, dari proses pembuatan lagu hingga pemasaran bandnya tersebut. Bahkan banyak yang layu sebelum berkembang karena masalah finansial yang serba minim.

Perkembangan teknologi saat ini yang begitu pesat, bagai dua mata koin. Satu sisi sangat menguntungkan karena mempermudah publikasi sebuah event musik atau sebuah band indie dan segala perkembangannya. Namun di sisi lain, bagi band yang berjalan didalamnya, sangat dikecewakan karena rilisan fisik mereka yang kini jarang lagi dilirik dan lebih beralih ke situs-situs yang memajang  serta mengunduh karya-karya mereka tanpa dipungut biaya sekali pun alias gratis atau free download.

Untuk mengatasi pengeluaran yang bisa dibilang mewah bagi band indie. Para musisi tersebut menggali kreatifitas mereka, mencari jalan pemasukan bagi kelangsungan kelompok musik tersebut. Beragam cara dilakukan, mulai dari pendapatan di setiap gigs-gigs yang mereka mainkan sampai ke ranah merchandise band.

Sekedar untuk bertahan hidup dalam industri musik kreatif. Tanpa menghilangkan rilisan fisik lagu-lagu mereka, banyak band yang kini mengandalkan penghasilan dari usaha mereka dari segi penjualan merchandise band itu sendiri. Selain sebagai pemasukan bisa jadi merupakan media promosi band mereka ke khalayak luas atau bahkan ajang kreatifitas lain ke dalam bentuk merchandise.

“Kalau untuk Koil, fungsi merchandise itu adalah untuk cari makan. Promosi iya, tapi karena penjualan kaos Koil cukup bagus, ya jadi alternatif, bukan lagi untuk promosi, lebih untuk cari duit,” ujar Otong Koil.

Otong menambahkan, dalam penggarapan merchandise , Koil ada timnya sendiri. “Kita jualan merchandise udah 20 tahun, jadi semua udah ada tim sendiri. Udah fix dan angka-angkanya udah bisa buat makan,” tutur pria berambut lurus panjang tersebut.

Penjualan merchandise mungkin tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari para musisi indie. Namun hal tersebut sedikit membantu perjalanan bermusik mereka. “Kalau menghidupi, enggak mungkin. Ya, kalau latihan jadi enggak perlu ngeluarin duit sendiri. Bisa nutupin buat latihan, buat transport,” kata Haikal Azizi vokalis Sigmun.

Bagi Sigmun sendiri, merchandise merupakan tempat berkreasi mereka dalam menuangkan imajinasi yang ada di kepala. “Satu kebetulan, kita semua lulusan seni rupa, jadi bisa dibilang menikmati proses membuat merchandise mau bikin apa, artwork misalnya,” tambah Haikal.

Sebuah jalur yang memungkinkan, band indie menggarap merchandise sebagai salah satu tempat pemasukan bagi bandnya. Di era teknologi seperti saat ini, perjuangan mereka sangat mudah namun terasa berat. Maka sepatutnya kita dapat mengapresiasikannya karya-karya mereka baik audio maupun visual.

Sumber foto:  http://gogs-store.tumblr.com/

 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner