Peran Nama ‘Alias’ Sebagai Keyakinan Musik Menyeramkan Kelelawar Malam
Dengan menggunakan nama ‘alias’. Kelelawar Malam seperti menimbulkan imej yang sesuai dengan entitas yang diusung serta disisipkan pada band-nya, yaitu berunsur kegelapan serta hal-hal yang sangat berkaitan.
Nama julukan dalam musisi, nyatanya telah digunakan sejak lama. Tepatnya seperti yang dilakukan oleh Jim Morrison kala grup musiknya bernama The Doors itu masih berjaya. Banyak orang memanggilnya kala itu dengan sebuatan sebagai ‘raja kadal (the lizard king)’, atau ‘Mr.Mojo Risin’ yang sebutan itu diseruarakan sendiri olehnya pada beberapa show The Doors dan lirik lagunya. Tak cuma, dari segi pelabelan nama julukan semata. Jim Morrison pun tak sedikit menampilkan aksi tarian vulgar yang dilengkapi dengan kata-kata yang tak senonoh, hingga akhirnya imej The Doors banyak disukai oleh penggermarnya waktu itu setelah hal-hal tersebut ditonjolkan oleh sang frontman.
Setelah The Doors dengan segala kejayaannya di medio 60 - 70an, masa pun terus bergulir. Sampai pada akhirnya fenomena penjulukan di ranah musik semakin di populerkan. Tepatnya pada era 80-an, segelintir musisi hiphop di Amerika menggunakan hal yang serupa seperti Jim Morrison dengan sebutan 'the lizard king'-nya. Bahkan julukan, alias, a.k.a atau apapun sebutannya itu digunakan sebagai nama panggung. Yang juga untuk menutupi nama identitas asli dari kartu tanda penduduk musisi tersebut. Dan tak jauh seperti Jim Morrison. Beberapa musisi ini lantas menggunakan nama julukan bertujuan untuk menguatkan karakter musik yang mereka mainkan, serta tak luput dengan sisi imej di proyek musik yang mereka kerahkan.
Sampai pada akhirnya virus ‘alias’ yang menyangkut perihal musisi ini pun semakin tersebar kemana-mana, termasuk di Indonesia. Beberapa grup musik di Indonesia, Indie terutama sangat banyak menggunakan ‘alias’ oleh personil yang tergabung dalam sebuah proyek musik. Diantara sebagian grup musik itu, ada satu yang paling kuat karakternya di tanah air, bahkan sampai dikenal orang banyak (terutama fans) walau mereka sedang tak di atas panggung sekalipun. Adalah Kelelawar Malam band yang dimaksudkan.
Peran alias dalam band asal Jakarta satu ini memang terbilang cukup kuat. Mulai dari nama band yang terkesan mistis dan menyeramkan. Lirik lagunya pun demikian, yang banyak mengadopsi fenomena-fenomena seram lumrah di Indonesia semacam mayat bangkit dari kuburlah, karakter film hantu lokal yang sangat fenomenal seperti Suzanna, bahkan untuk nama dari lima personil didalamnya pun semakin meyakinkan bahwa Kelelawar Malam memang band yang dapat menjadi mimpi buruk bagi orang yang mengkonsumsi karya-karya mereka. Khususnya nama personil, dalam tubuh grup musik ini ada Sayiba Von Mencekam (Vokal/Gitar), Deta Beringas (Gitar/Vokal), Fahri Al Maut (Gitar), Uri Mongol (Bass) Dan Hafid Buto (Drum). Ya, begitulah Kelelawar Malam dan nama alias yang digunakan oleh personilnya.
Dengan penggunaan alias, Kelelawar Malam seakan sangat percaya diri menyatakan bahwa mereka memang band seram. Tak cuma dari satu sisi semata, melainkan dari berbagai sisi seperti yang sepintas telah disebutkan di atas yang kesemuanya berkaitan dengan imej atau identitas. Serta yang paling unik dengan penggunaan identitas oleh band ini adalah, setiap penampilannya mereka tak terkesan biasa saja, atau dibanding-bandingkan dengan band lain yang ada di tanah air. Karena Kelelawar Malam selalu menampilkan kesan gelap, suram, berkabut, serta tak sedikit juga ditemani oleh berbagai hantu semacam pocong sebagai gimik di beberapa aksi panggungnya. Dan jika nantinya mereka telah tiada, atau benar-benar punah dalam ranah musik, semoga bakal ada grup ber-identitas yang lebih kuat daripada Kelelawar Malam. Karena tanpa identitas, band atau proyek musik itu sangat sulit dikenal oleh orang banyak. Walau dari semua itu, karya memang menjadi prioritas penting jika terjun di dunia musik semacam ini.
Comments (0)