Pernik Menarik Musik Ska A la Sentimental Moods
Kita ingin mengiringi ‘mood’ pendengar dengan ragam interpretasi yang mereka tangkap dalam lagu-lagu kami, ujar sang basis, Edo.
Lebih kurang satu dekade sebagai sebuah band, Sentimental Moods terbilang band yang cukup unik, karena alih-alih tampil dengan seorang vokalis, band ini memilih untuk menyajikan musiknya tanpa kehadiran seorang vokalis. Hal ini sebenarnya bukan satu hal baru jika bicara soal musik post rock atau jazz misalnya, yang memang kerap disajikan tanpa seorang vokalis. Namun jika bicara ska, tidak banyak yang memainkan musik ini tanpa kehadiran seorang vokalis di dalamnya.
Ditemui disela-sela syuting DCDC Musikkita, Sentimental Moods yang diwakili oleh sang basis, Edo menuturkan jika konsep tersebut lebih kepada keinginan mereka untuk mengiringi ‘mood’ pendengarnya, dengan ragam interpretasi yang pendengar tangkap dalam lagu-lagunya. “kita sih ngebebasin si pendengar mau mengartikan lagu kita kaya gimana. Kita ngga mau mematok pendengar harus ikut dengan judul yang kita buat. Untungnya kita ga nulis lirik, karena emang ngga ada vokalisnya juga. Jadi ya bebas aja. Ya kita pengen mengiringi mood pendengar dengan musik kita”, ujar Edo.
Dalam perjalanannya, band yang pernah diperkuat oleh drumer, Beni (yang juga pernah memperkuat The Upstairs) ini mengalami penambahan personil dalam bandnya, setelah Beni memutuskan keluar dari Sentimental Moods. Dari mulai bagian ritmis hingga departemen brass section mereka masukan ke dalam torehan kreasi karyanya, pada tahun 2011 hingga saat ini.
Satu hal menarik pernah dialami pula oleh Sentimental Moods ketika sang gitaris, Wiro pernah lupa kunci gitar di salah satu lagu Sentimental Moods. Karena tidak ingin tampil berantakan, dia menaruh gitarnya dan berjoget di atas panggung. “untungnya kita ga ada leader, karena kita ga ada vokalis, terus pas Wiro ini joget di atas panggung juga bukannya diprotes, malah dibilang keren secara stage performance nya”, ujar Edo. “padahal mereka ga tahu aja kalo gua lupa kunci gitarnya”, ujar Wiro menimpali (disambut tawa personil yang lain)

Perjalanan satu dekade band ini berdiri ditandai pula dengan perilisan album kedua mereka yang berjudul Semburat. Album berisi 13 lagu di dalamnya ini menurut sang kibordis, Dharmo Soedirman alias masmo, (kibordis yang sebelumnya tergabung di band notturno dan juga Leonardo and His Impeccable Six, sebuah band berwarna swing-rockabili) jika dalam prosesnya memakan waktu sekitar dua bulan rekaman ketika bulan ramadhan, namun workshop pembuatan lagunya yang cukup memakan waktu yang agak lama, sekitar satu tahun. “album ini juga melibatkan teman-teman dari Shaggydog yang mempunyai label rekaman DoggyHouse records. Mereka tertarik untuk merilis album Semburat ini”, ujar mas Mo.
Band yang beranggotakan Acil (drum), Amor (trombone), Daniel (baritone saxophone), Edo (bass gitar), Masmo (keyboard), Taufiq (trumpet), Wiro (Gitar), dan Yurie (tenor saxophone) ini menawarkan musik yang cukup berbeda jika dibandingkan album/mini album mereka sebelumnya, terutama ada nuansa musik ska ala Jawa yang cukup kental, seperti yang terdapat dalam salah satu lagunya, yang berjudul “Lhaiki”.

Lagu ini terasa unik dengan diawali hentakan ciri khas musik ska yang mengajak untuk berjoget dan spoken word di awal lagunya berlirik vokal Jawa Tengah. Sekilas mengingatkan pada beberapa lagu milik Tokyo Ska Paradise (Jepang). Namun terlepas dari penilaian itu, bagi Sentimental Moods sendiri mengakui bahwa mereka menghadirkan ciri khas musiknya tersendiri, baik dari segi lagam vokal, ritme musik dan lain sebagainya. Beberapa emosi pun menjadi bumbu dalam album kedua Sentimental Moods ini, seperti kemarahan, senang, hingga sarkatis dalam intonasi tempo cepat dan minor. Persembahan dari keberagamana yang telah disebutkan itu, Sentimental Moods tuangkan lewat beberapa instrumen lain seperti kendang, calung, dan lainnya.
Comments (0)