Piringan Hitam Kembali Menjadi Primadona di Kalangan Band Indie

Piringan Hitam Kembali Menjadi Primadona di Kalangan Band Indie

By : Kontributor

Kemunculan piringan hitam di kalangan musisi sudah tidak asing lagi. Sempat beberapa dekade kehilangan pesonanya, terbukti barang antik satu ini kembali hidup setelah mengalami dalam mati suri cukup lama. Berikut lima Band indie yang mengambil langkah merilis piringan hitam untuk membalut karya-karya mereka. Check this out...

ENDAH N RHESA – “ESCAPE”

Duo suami istri yang tiada henti menghajar gitar dan bass di atas panggung, berhasil merampungkan album ketiganya “Escape”. Album ini merupakan akhir dari trilogi album yang menceritakan tentang Shane Harden yang tinggal di pulau Silence dan melarikan diri, setelah kembali dari masa lalu menggunakan mesin waktu. Karakter pasangan ini diciptakan tersendiri dengan konsep album tematik yang dikerjakan secara swadaya oleh  mereka.

MORFEM – “HEY, MAKAN TUH GITAR!”

Kuartet yang mencampurkan punk rock, power pop dan noise rock sekaligus ini  merilis album keduanya sendiri pada Tahun 2013 dengan tajuk yang cukup “nyeleneh”, “Hey, Makan Tuh Gitar!” Boleh dibilang album ini adalah tendangan telak terbaru tentang problematika kehidupan sosial yang disuarakan secara lugas oleh Jimi Multazam cs., setelah di album pertama mereka berusaha mendefinisikannya. Di album kedua inilah mereka mempertegas dengan lebih bersahaja tanpa berusaha mengurangi sisi “nakal”nya. Beruntung, isi dari album pun bisa mengimbangi tajuk album tersebut karena Morfem kini semakin meraung berkat dominasi pemainan gitar yang raw dan fuzzy.

SEMAKBELUKAR – “UNTITLED EP”

 

Grup folk melayu asal kota Palembang ini merilis album EP berikutnya di Tahun 2013 yang disengajai tanpa nama. Dirilis dengan bentuk piringan hitam, CD dan cassette tape oleh Elevation Records. Semakbelukar  ingin membuktikan eksistensi musik Melayu yang sesungguhnya tanpa menjadi seperti pop melayu komersil yang semakin “pasaran”. Dengan menggunakan mandolin, akordeon dan gendang melayu yang menjadi ciri khas suara musik Melayu. David Hersya dan koleganya mengangkat tema-tema sosial dipadupadankan dengan lirik lagu jenius yang layaknya “Gurindam Dua Belas” karya sang legendaris Raja Ali Haji.

SORE – “SOREALIST”

Unsur musik Indonesia di Tahun 1950 sampai 1960-an sangat kental dalam nuansa musik kolektif indie ini, dengan rilisnya album “Sorealist” serupa dengan “The Best Of” ini di Tahun 2013. Sore masih menawarkan “racun” yang membius namun nikmat untuk didengarkan. Memuat 10 track dari kedua album terdahulu dan tiga lagu baru yang berjudul “Musim Ujan”, “Ssst…” dan “Bantal Keras”. “Sorealist” seakan menjadi “persinggahan” untuk Sore sebelum melanjutkan perjalanan eksplorasi musikal untuk album berikutnya sepeninggal sang kibordis, Ramondo Gascoro.

DEBLUESFRESH – “BUKAN BALADA CENGENG”

Unsur blues yang kental langsung menyeruak ketika pertama kali mendengar album ini. Vokal yang kerap “nyeleneh” ditampilkan saat melantunkan lirik dan gitar dengan akord blues yang bertenaga. Mathsoul cs, kembali merilis album keduanya tahun ini setelah rilisan album pertama mereka meluncur di Tahun 2009. Sepertinya “Debluesfresh” lebih dewasa dalam memainkan genre blues meskipun,  tidak terlihat liarnya not-not blues yang berkelana dalam album “Debluesfresh”. 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner