Ponsel Dalam Konser, Yes or No?

Ponsel Dalam Konser, Yes or No?

Teknologi memang tak bisa dibendung, maka poin utamanya adalah bagaimana kenyamanan dalam konser tetap bisa terjaga, tanpa terdistraksi dengan smartphone

Bicara soal konser yang diselenggarakan pada era serba digital tentunya tidak bisa dilepaskan dengan aktivasi penontonnya di sosial media, salah satu indikasinya adalah eksistensi mereka dengan gawai pintarnya. Memotret suasana konser untuk kemudian diunggah di sosial media. Dari sana aktivasi, eksistensi, dan tingkat interaksi terhadap konten di media seseorang jadi pertaruhan, apakah akan mendapatkan ‘love’ yang banyak atau tidak. Namun nyatanya tidak semua musisi suka dengan keberadaan ponsel di dalam konsernya. Salah satunya adalah Jack White. Pentolan grup musik The White Stripes ini mengeluarkan regulasi ketat terkait penggunaan ponsel saat menyaksikan konsernya yakni "phone-free" alias bebas dari ponsel.

Agar konser berjalan tertib, pihak penyelenggara konser telah menyediakan kantung khusus untuk menyimpan ponsel penonton. Bunyi sebuah pernyataan regulasi konser Jack White, salah satunya adalah: "Tidak ada perangkat foto, video, atau rekaman audio yang diperbolehkan. “Kami rasa Anda akan lebih menikmati jika selama konser hanya sesekali saja melihat handphone dan merasakan musik dan membagikan cinta (interaksi) secara personal”, ujar Jack. Sikap Jack bukan hal baru. Musisi lain seperti Adele, Madonna, hingga Beyonce pernah melakukan hal serupa.

Ada juga band Coldplay yang juga sedikit merasa risih dengan keberadaan ponsel dalam konsernya. Hal ini terbukti saat Coldplay membawakan “Charlie Brown” dalam salah satu konsernya di Chicago (Agustus 2017), Chris Martin (vokalis) tiba-tiba ‘orasi’ di tengah-tengah penampilan. Lagu tersebut sudah jalan seperempat, lalu Chris mendadak memberhentikan lagu. Dengan spontan, ia menghimbau dan bicara sejenak pada penonton.

“Konser ini adalah gabungan energi kita semua. Kita (seakan) mampu membuat hujan dan angin ‘berhenti’. Kami di sini, berdiri bersama 65.000 lautan manusia. Tapi dari atas panggung, saya melihat di depan kami ada sekitar 15.000 layar handphone terangkat ke udara. Padahal, ini hari besar kita. Maka saya mohon, hanya untuk satu lagu saja, kalian simpan sejenak ponsel kalian. Hanya untuk lagu ini saja, saya mohon! Setelah hari ini, kalian akan kembali ke realitas masing-masing: kerja, tidur, nonton, baca buku, makan, gunakan handphone. Mari rayakan pertemuan ini. Kita merespon bersama semua beat yang ada. Jump! We can jump together! Hingga kalian di barisan paling belakang sana, jump, kita rayakan hari ini sebagai salah satu momen terindah di hidup kita. Hanya untuk satu lagu ini saja, wahai 65.000 jiwa manusia. No cell-phone please, just music, just blend us, and we can see what will happen...”

Akhirnya Chris kembali meminta personil lain untuk mengulang lagu “Charlie Brown” dari awal; sejak intro – dan, ya, semua penonton semakin ‘menggila’ dengan histeris.

Pelarangan ponsel memang ada baiknya diterapkan untuk lebih menikmati atmosfer panggung musik yang ditampilkan. Lebih-lebih jika aksi panggung sang idola dikatakan tak biasa. Namun, semua kembali lagi kepada penonton, apakah ingin merasakan konser musik pada momen itu juga, atau mengabadikan momen untuk kembali dikenang di masa yang akan datang.

Regulasi ini sendiri belum banyak diterapkan di panggung musik Indonesia. Karena itu, sikap masyarakat pun beragam. Ada yang setuju ponsel dilarang digunakan saat konser, tapi ada juga yang memaklumi penggunaan ponsel. Alasan terkuat adalah untuk mengabadikan momen – dan bentuk pemakluman mengingat hal inisudah menjadi kultur plus pemahaman tersendiri bagi masyarakat. Sedangkan alasan untuk melarang adalah demi keintiman dan proses pertukaran energi dalam konser itu sendiri.

Teknologi memang tak bisa dibendung, maka poin utamanya adalah bagaimana kenyamanan dalam konser tetap bisa terjaga. Orang datang dengan membeli tiket. Idealnya mereka menikmati konser dengan nyaman, tanpa terdistraksi dengan smartphone – terlebih nonton live music itu berbeda dengan mendengarkan audio.

BACA JUGA - Meracik Gimik Musisi di Atas Panggung

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner