Post Human, Band Dengan Dua Basis yang Tertarik Angkat Teori Elisabeth Kübler Ross
Tentang musik?
“karena pada dasarnya kita suka musik ‘keras’, jadi ya arahnya memang kesana”, ujar Getha. “selain itu, peluangnya juga lebih terbuka. Karena kalo misalnya musik lain, anggaplah blues gitu, agak susah kalo misalnya harus menggambarkan kemarahan di musik blues”, Boris menambahkan. Satu hal yang langsung diamini oleh Getha ketika dirinya mengatakan kalau blues itu harus chill, dan jangan marah-marah (langsung disambut tawa oleh personil lainnya).
Format dua bas?
“jadi Getha mainin bas sebagaimana biasanya, di mana dia main di frekuensi low, tanpa ada distorsi sama sekali. Sedangkan saya mainin bas yang fokusnya di frekuensi middle. Jadi ketika di lagunya kita bagi-baginya enak. Getha di low, saya di middle, dan Domu di treble high”, ujar Boris. Satu hal yang kemudian ditambahkan oleh Getha jika pada awalnya sang drumer, Richard mengajaknya untuk bermain gitar di bandnya. Getha mengatakan jika dirinya tidak terlalu nyaman untuk bermain gitar. “badan besar main gitar jadi kaya main ukulele”, ujarnya seraya tertawa. Sampai akhirnya dia mengatakan pada Richard ingin memakai konsep dua bas, karena menurutnya meski Borsi bermain bas, tapi gaya permainannya seperti melodi gitar.
“awalnya kita jalan berempat, dengan konsep dua bas. Lalu ketika saya ada urusan untuk waktu yang cukup panjang, Domu menggantikan saya bermain bas. Pas saya balik lagi, sayang juga kalo Domu keluar, karena dia sebenarnya bagus mainnya, dan sebenarnya dia itu gitaris. Jadi yaudah lah Domu main gitar aja untuk menutupi kekurangan”, ujar Getha (akrab disapa Iyo). “karena akhirnya ketika formasinya cuma dua bas, high frekuensinya ngga dapet, dan akhirnya soundnya kerasa lebih sempit. Untuk ngakalin itu, kita ngerasa tetep butuh gitaris. Karena ada Domu, dan kita juga udah cocok sama Domu, yaudah Domu kita tarik”, ujar Boris menambahkan.
Comments (0)