Re-Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone, Album Pengingat Kejayaan Blasphemous Death Metal

Re-Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone, Album Pengingat Kejayaan Blasphemous Death Metal

Di tahun 1999, mereka merilis full album yang berjudul Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone. Secara musikalitas, penulisan lirik dan tema yang diusung, rasanya wajar album ini menjadi masterpiece bagi skena death metal di Indonesia. Masih konsisten mengusung tema penghujatan dan membongkar kemunafikan dalam nilai-nilai teologi, disajikan dalam tensi kemarahan yang brutal di tiap lagunya. Pengaruh Suffocation dan Monstrosity juga hadir di album ini, dengan tingkat kerumitan komposisi musik khas death metal progresif.

Namun, selepas album ini saya mulai kehilangan jejak sepak terjang band ini yang kerap bergonta-ganti personil. Selain itu, pasca hengkangnya James dari Grausig, ada upaya untuk merubah citra Grausig sebagai band yang mengusung tema blasphemy dan penghujatan pada nilai teologis. Hal itu justru membuat saya kehilangan gairah untuk mengikuti karya-karya terbaru mereka, karena saya tidak menemukan lagi hal-hal yang menantang untuk didiskusikan atau sekadar jadi inspirasi.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by GrausiG (@grausigofficial) on

Pada tanggal 29 Desember 2019, dalam rangka memperingati 20 tahun album Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone, Grausig bekerjasama dengan Disembowel Records merekam dan merilis ulang album tersebut dengan judul Re-Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone. Menurut mereka, album ini kembali direkam dan dirilis dalam format cakram padat karena banyaknya permintaan dari penggemar mereka. Tentu saja saya senang, setidaknya saya bisa kembali mendengarkan album masterpiece ini dalam kualitas audio yang lebih baik lagi.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner