Re-Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone, Album Pengingat Kejayaan Blasphemous Death Metal

Re-Abandoned, Forgotten, Rotting & Alone, Album Pengingat Kejayaan Blasphemous Death Metal

Secara personal, saya kenal band ini ketika mereka merilis album mini Feed The Flesh To The Beast. Pernah nonton langsung ketika mereka manggung dan ikut berjibaku di lantai moshpit bersama metalhead lainnya zaman Gor Saparua di Bandung masih aktif menggelar acara musik bawah tanah.

Dengan musik death metal a la Deicide, mereka muncul lengkap dengan citra sebagai pemuja setan dan penghujat Tuhan. Tentu, figur yang mereka sajikan di atas panggung berhasil mencuri perhatian saya yang kala itu masih remaja dan penasaran dengan segala hal. Begitupun ketika mereka merilis album mini pertama di tahun 1998 dengan menyuguhkan sampul album bergambar dewa Baphomet yang sedang disembah.

Hal lainnya yang menarik saya pada band ini adalah kemampuan penulisan lirik berbahasa Inggris yang baik. Vokalis Grausig di kala itu adalah James yang mempunyai latar pendidikan Sastra Inggris di salah satu universitas swasta di Jakarta. Hal tersebut berhasil menjadikan lirik Inggris di Grausig menjadi sangat matang dan presisi, utamanya dalam pemilihan diksi atau gramatika bahasa pada umumnya.

Saat itu, rasanya belum ada band death metal di Indonesia yang berhasil membangun kekuatan lirik berbahasa Inggris secerdas dengan nyali senekat James terkait dengan tema yang sensitif terhadap kontroversi. Walaupun dari sisi kualitas audio rekaman yang dihasilkan di album ini tidak terlalu istimewa bahkan boleh dibilang di bawah standar, namun pada masa itu sangatlah sulit bagi band bawah tanah dengan kemampuan finansial yang sangat terbatas dapat mengakses studio rekaman dengan kualitas bagus.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner