Regresif Persuasif Funk
Band pengusung elemen funk asal Jakarta, TOR, telah rampung merekam album perdana sejak band tersebut terbentuk pada 1997 silam. Album yang untuk sementara diberi judul Lorem Ipsum Dolor Sit Amet tersebut telah selesai di-mastering oleh musisi jazz legendaris Indra Lesmana dan rencananya akan dirilis setelah Lebaran di bawah indie label REI Project, milik duo akustik Endah N Rhesa.
Rekaman yang mereka mulai sejak akhir Oktober 2010 silam itu, diakui oleh vokalis/gitaris Warman Nasution memakan waktu terlama pada tahap mixing. Dan menurutnya itu disebabkan oleh dua hal.


Pertama, TOR mengerjakannya sendiri dan tidak menggunakan bantuan profesional, sehingga membutuhkan banyak waktu untuk membaca buku manual, menonton tutorial serta bertanya kepada orang-orang. Dan kedua, TOR tidak menemukan referensi sound dari musik atau album manapun yang bisa mereka tiru, sehingga proses equalizing harus mencoba-coba sendiri untuk menemukan yang cocok..
TOR memang band rock yang bereksperimentasi memasukkan perkusi kendang sebagai elemen musiknya. Namun, bagi mereka eksperimen tidak hanya sebatas pada penggunaan instrumen.
Mereka selalu tertantang untuk membuat chord-chord yang sumbang menjadi merdu, memaksakan interval yang dalam teorinya tidak diperbolehkan dan bermain-main dengan ketukan ganjil. Menurut Warman hal itu efektif untuk menghindarkan mereka dari kebosanan pada struktur lagu pop.
“Kalau musik yang sudah template kita bisa ketiduran sampai ngiler,” lanjut sang vokalis yang juga mantan penyiar radio Prambors itu lagi. “Anak-anak bosenan sih. Makanya lagu juga nggak ada yang lewat dari empat menit.”




Empat belas lagu yang akan terdapat di dalam album perdana TOR adalah lagu-lagu yang telah mereka ciptakan selama empat belas tahun belakangan. Kata Warman, “Anggap saja satu track untuk tiap tahun. Pas kan empat belas?”
Menurut Warman, ada dua sebab kenapa TOR baru merilis album pertamanya setelah sekian lama. Pertama terkait komitmen mereka sewaktu mendirikan band ini bukan sebagai sumber penghidupan. “Jadi dari awal kita nge-jam di studio bikinan sendiri yang bau lem di Gondangdia, kita sudah sepakati satu hal, TOR nggak boleh jadi sumber penghidupan,” kisah Warman. “Jangan bayar tagihan apapun pakai duit dari TOR. Kita nggak mau musik kita dipengaruhi dorongan perut sedikitpun. Jadi cari duit dari tempat lain, TOR buat liburan. Nah konsekuensi kalau liburan, moodnya santai, senang-senang aja, nggak mikir.”
Dan sebab yang kedua terkait kedisiplinan masing-masing personel dalam menggarap album secara serius. Warman mengungkapkan, sebelumnya TOR pernah mencoba untuk rekaman sebanyak tiga kali, namun semuanya gagal lantaran tidak adanya peran produser rekaman yang mengawasi kinerja mereka. “Ya begitulah kalau nggak ada target, nggak ada produser yang pecut-pecut, nggak ada perut yang memaksa produksi rekaman. Santai,” imbuh mantan kekasih Dian Sastro itu lagi.

Oktober 2010 silam, tak lama berselang setelah Jakarta Blues Festival 2010, Warman dihadapkan pada sebuah pertanyaan dan tawaran dari seorang teman lama yang merupakan pemain bas Endah N Rhesa, Rhesa Adityarama. “Satu malam muncullah pertanyaan dari Rhesa, ‘TOR kenapa nggak bikin album sih, Man?’” Warman menirukan ucapan suami vokalis/gitaris Endah Widiastuti itu. “Gue ceritakan, intinya nggak ada polisi yang ngejar-ngejar kami. Rhesa menawarkan diri, ‘Sini, deh. Gue yang polisiin.’ Gue awalnya skeptis. Mana sanggup dia memaksa empat orang pemalas seperti kami?”
Sejak itu Rhesa yang telah didaulat untuk memproduseri album TOR menjadi orang yang selalu menelpon Warman setiap pagi, mengingatkannya untuk rekaman. “Ternyata si kribo (Rhesa) sanggup memaksa para pemalas ini untuk merekam sebuah album. Co-produseran deh kita,” kata Warman lagi.
Soal musik TOR, Warman mengaku masih ragu untuk mendefinisikannya ke dalam satu genre saja. Karena itulah selama ini mereka hanya menyebutnya sebagai ‘regresif persuasif funk.’ “Serius, banyak yang salah paham, makanya kita masih ragu-ragu kalau diajak main di acara bertema genre spesifik.. Takut ditimpukin,” katanya. “Acara blues jaya pub, ‘Where's the guitar solo?’ ucap seorang bule gendut. Acara jazz di Gedung 28, ‘improve dialognya segitu doang?’ Acara progresive rock society. ‘Kok 7/8 nya sedikit?’”


Meski begitu Warman mengingatkan, jika orang-orang bisa mengonsumsi musik TOR dengan pikiran terbuka, mereka akan mendapatkan sebuah pengalaman baru. “Nggak perlu ngerti musiknya juga. Yang kita tawarkan cuma pengalaman baru. Bukan edukasi. Belum tentu pengalaman bagus, tapi baru. Bukan genre baru maupun suara-suara baru. Take a risk. Listen to what we have to say, you might change your mind,” tandasnya.
TOR merupakan salah satu band yang sempat menjadi ”raja pensi” di berbagai acara SMA di Jakarta dan sekitarnya pada akhir dekade 90an hingga awal 2000an. Selain Warman, formasi terkini TOR adalahWarman Nasution (vokal-lead guitar) Hendricus Wisnugroho (kendang-perkusi), Raymond Liando (bas) dan Abimanyu Basuki (drum).
*Via : http://nadadiantaranada.blogspot.com/2012/04/tor-band-indie-indonesia.html
Comments (0)