Reportase : Akselerasi Melodi Dalam Kreasi "Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka" Subang
Setelahnya dalang Batara Sena tampil dengan wayang-wayangnya, yang berkisah tentang hal-hal keseharian, yang berisikan sindiran dan kritikan sosial, namun disajikan dengan cara jenaka dan tetap ‘berisi’. Seperti halnya alm ayahnya, Asep Sunandar Sunarya, dalang Sena juga hadir dengan suguhan wayang kontemporer, baik dari segi modifikasi wayangnya itu sendiri, maupun cara penyajiannya.
Setelah penampilan dalan Sena, lagu “Kujang Rompang” dibawakan dengan dibuka oleh liriknya, yang juga punya makna dalam dan skral ketika Man mengucapkan “Panceg Dina Galur”. Pada tiga puluh menit penampilannya di atas panggung, Jasad masih menghadirkan stamina terbaiknya. Dengan kujang yang diangkat ke udara, Man menjadi sosok yang punya kharisma kuat, dan sedikit kontras ketika dihubungkan dengan kesehariannya yang santai. Selain itu permainan drum Oki misalnya, yang konstan menjaga rima dan kekuatan ketukannya, jadi sebuah ‘genderang perang’, ketika dia memainkan double pedal ataupun rentetan suara snare drumnya. Gemuruh suara yang mengiringi para penonton berbagi keringat di area moshpit. Sampai akhirnya Jasad menutupnya dengan lagu cover “Pesawat Tempur”.
Comments (0)