Reportase : Gabungan Dua Kelompok Experimenal Rock Asal Kota Kembang, ‘Rubah Suara’
Di Persinggahan terakhirnya, masing-masing pihak kolaborator mempertontonkan aksinya didepan beberapa khalayak
Setelah melwati dua kota dalam perjalanannya, Majalengka dan Jakarta. Sebuah kolaborasi yang baru-baru ini dilaksanakan oleh dua kelompok musik rock, The Fox And The Thieve dan Superfine yang bertajuk ‘Rubah Suara’ itu telah sampai di titik terakhirnya. Tepatnya di kota yang sekaligus merupakan kampung halaman mereka, Bandung menjadi saksi bisu atas kolaborasi dua band ini. Dalam pemberhentian terakhirnya, dua pihak – kelompok musik yang menjadi pelaku dari ‘Rubah Suara’ itu memanfaatkan sebuah agenda khsusus. Yang mana mereka mengundang dua sosok penulis yang cukup menajdi peran penting dalam barometer perjalanan musik di Bandung. Mereka adalah Idhar Resmadi selaku moderator acara, dan Kimung yang berperan sebagai kontributor yang mengulas banyak perkembangan musik di Bandung pada tanggal 8 January 2018, berlokasi di Bhang Records & Rebuilt Studio 40124.

Dibuka dengan sesi sharing, Kimung banyak mengulas berbagai pengalamannya mengenai perkembangan musik Kota Bandung. Mulai dari kiprah studio Rebuilt 40124 yang telah menjadi sejarah munculnya kompilasi fenomenal, Masa Indah Banget Sekali Pisan (1997) hingga berbagai sejarah lainnya dari beberapa grup musik indipenden lainnya pun, terulas oleh mantan basis Burgerkill – penulis buku Ujung Berung Rebels – personil dari Karinding Attack itu. Selain Kimung, sosok penting lainnya ada Idhar Resmadi yang juga merupakan mantan editor in chief di majalah indipenden ternama, Ripple Magazine. Selama menjadi moderator dalam sesi sharing ‘Rubah Suara’, Idhar menanyakan beberapa perihal kepada dua pihak band yang menjadi pelaku di kolaborasi ini ; The Fox And The Thieve dan Superfine. Yang paling diingat selain menanyakan maksud dari kolaborasi ini, Idhar menanyakan mengenai sistemasi pengakomodiran dari dua band ini. Tepatnya berlandaskan dari awal mula mereka mulai dikenal oleh publik, hingga kendala-kendala yang ditemui dalam proses berkarya.
Comments (0)