Reportase : Hantaman Simfoni dan Akselerasi Musikal Burgerkill Lewat Killchestra

Reportase : Hantaman Simfoni dan Akselerasi Musikal Burgerkill Lewat Killchestra

Kenyang dengan aneka macam makanan yang tersaji di area food court maupun booth Kill Burger, pengunjung pun diasupi nutrisi lewat beberapa sharing session, yang tentunya bisa menambah ilmu dan wawasan seputaran dunia musik. Dari mulai sharing bersama band-band Shout Out, lalu ada sharing tentang ilmu gitar bersama AGC Music School, yang pada hari itu dilengkapi pula dengan penampilan dari Balum (gitaris Alone At Last), yang juga merupakan salah satu pengajar disana. Tidak hanya sampai disana, karena gelaran yang sejatinya sebuah oleh-oleh Burgerkill dari Eropa ini, juga tentunya dilengkapi dengan para jurnalis yang menangkap momen-momen penting selama Burgerkill di Praha, dan beberapa kota di Eropa pada bulan Maret lalu. Hal itu kemudian diceritakan pada sesi Talk Show bersama para jurnalis, yang terdiri dari Kimung, Yuda, Gogeng, dan Anggra. Banyak perbincangan bersama para jurnalis, yang tidak hanya menarik tapi juga menjadi penting, sebagai catatan agar tidak hanya Burgerkill yang bisa merasakan pencapaian seperti ini. Tapi juga regenerasi band-band setelahnya juga bisa mendapat kesempatan yang sama. Dan yang paling penting adalah perlunya dokumentasi pada perjalanan musik sebuah band, hingga akhirnya hal tersebut dapat menginspirasi bagi banyak orang.

Sampai akhirnya sekitar pukul delapan malam Burgerkill tampil di panggung utama, dan langsung menggebrak dengan dua lagu berjudul “Darah Hitam Kebencian” dan “Under The Scar”. Ledakan demi ledakan mereka muntahkan dan makin menjadi-jadi ketika mereka membawakan lagu “Sakit Jiwa” dan “Shadow Of Sorrow”, yang secara isian liriknya punya daya magnet tersendiri, karena merupakan lagu yang cukup populer dari Burgerkill. Terlebih ketika lagu “Sakit Jiwa” menggema, lewat teriakan Vicky yang bersahutan dengan para Begundal, kala mereka bergantian meneriakan lagu tersebut, menjadi satu hal yang membuat penonton di deretan kursi atas, menjadi gelisah ingin berbaur bersama pusaran moshpit di bibir panggung, karena lagunya yang sangat provokatif. Hal ini juga tidak lepas dari aksi panggung duo gitaris Eben dan Agung, basis Ramdhan, dan drumer baru mereka Putra, yang kesemuanya tampil maksimal, lepas, dan tidak menyisakan ruang bagi tubuhnya untuk terdiam. Mereka bergerak, memprovokasi penonton agar larut bersama agresifnya musik yang mereka mainkan.   

  

Selanjutnya, seakan sedang memacu kendaraan pada kecepatan lebih dari 100km/jam, Burgerkill enggan menurunkan tempo lagunya, bahkan ketika itu ditimpali dengan balutan orkestra sekalipun. Menariknya, kumpulan string section yang kadung identik dengan gaya permainan lembutnya, menjadi terbawa dengan agresifitas bunyi dan rapatnya komposisi musik Burgerkill, seperti di tiga lagu mereka yang berjudul “Anjing Tanah”, “Penjara Batin”, dan “Only The Strong”, dimana ketiganya dimainkan dengan akselerasi maksimum, yang jika diilustrasikan seperti sedang di arena balap liar yang melawan arah, ngebut dan berbahaya. Sampai akhirnya lagu “Tiga Titik Hitam” meredam semua itu, menjadi sebuah suguhan yang membuat penonton kehabisan kata-kata, akan “kesakralan” lagu tersebut.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner