Reportase: Kejayaan Terapi Urine, Mooner dan Komunal di Limunas X

Reportase: Kejayaan Terapi Urine, Mooner dan Komunal di Limunas X

"Akhirnya, Limunas kembali hadir dengan suguhan pesta pora musik rock di konser yang ke-sepuluh."

Untuk ke-sepuluh kalinya, Liga Musik Nasional atau Limunas sukses digelar. Gedung IFI Bandung menjadi saksi bisu dari penampilan prima ketiga band berkarakter kuat, yaitu Komunal, Terapi Urine, dan Mooner. Komunal dengan aliran heavy metal-nya, Terapi Urine dengan grindcore berbalut komedi, dan grup musik muda Mooner menjadi daya tarik tersendiri dari gelaran acara Limunas yang diselenggarakan pada tanggal 2 September 2017 lalu.

Tentu, digelarnya kembali acara Limunas menjadi magnet bagi penikmat musik keras di Kota Bandung, termasuk saya pribadi yang memang gemar mendengar musik dari tiga band pengisi acara Limunas X tersebut. Dan jauh hari setelah publikasi dimana-mana mengenai akan hadirnya acara ini, saya sempat mengidam-idamkan untuk menyaksikannya hingga pada hari perhelatannya, pun saya berangkat dari kediaman dengan bersemangat penuh. Namun, karena tersendat kemacetan, saya melewati beberapa momen di Limunas dan baru dapat hadir di lokasi ketika Terapi Urine sudah membawakan beberapa lagu. Ini adalah penampilan Terapi Urine yang saya saksikan untuk kedua kalinya, setelah mengisi sebuah acara kolektif bertaraf studio show tak lama setelah album Kehiduvan Yang Vhana Ini (2014/Anarkopop Records) dirilis.

Lama tak menyaksikan aksi konyol dari grup grindcore Terapi Urine, penampilan mereka di Limunas X kemarin ternyata memang tidak melenceng dari pakemnya. Unsur jenaka saat berada di atas panggung mereka sajikan, contohnya dengan membuat sebuah peraturan seperti ini: jika salah satu personilnya salah memainkan musik, personil tersebut harus dihukum dengan cara push up di atas panggung. Selain itu, mereka pun menggunakan kostum unik, seperti layaknya seragam pemadam kebakaran atau pegawai pombensin serba hijau. Sekitar sepuluh lagu (atau lebih) dibawakan oleh Terapi Urine kemarin, yang diambil dari album split, album studio, termasuk dari materi baru yang mereka rilis via Instagram bertajuk Petenteng (2017).


Terapi Urine (Foto: Herdina K)

Saya sendiri sangat menikmati pesta pora Terapi Urine saat mereka membawakan lagu dengan tema yang sangat sederhana, seperti “Barokah”, “Pasar Santa”, dan “Wanita Fana”. Di sela permaianan lagu yang berdurasi singkat itu, beberapa personil Terapi Urine menyerukan dengan lantang, layaknya kampanye teruntuk sang gitarisnya bernama Aris berbunyi “Dukung Aris For Bogor!!!”. Penampilan Terapi Urine saat mengisi acara Limunas X kemarin terbilang lancar, konyol dan super-duper ugal-ugalan. Meski sempat mengalami kendala pada bass yang digunakan oleh Qori ‘Masqoi’, tapi penampilan Terapi Urine menjadi pemantik yang cukup meriah untuk Limunas X.


Terapi Urine (Foto: Herdina K)

Setelah penampilan Terapi Urine, acara Limunas X dihentikan sejenak untuk break. Pada saat itu, terlihat para personil Mooner sedang hilir-mudik membawa seperangkat alat musik mereka ke atas panggung. Selama sesi break berlangsung, saya beserta rekan penonton lainnya memilih untuk keluar sejenak dari venue, sekedar mencari angin dan menyulut sebatang rokok sembari berbincang dan menunggu performa band selanjutnya: Mooner. Pada sesi break ini juga tak sedikit penonton yang mengunjungi area booth Omuniuum untuk membeli merchandise, serta juga terlihat beberapa pengunjung baru datang dan membeli tiket Limunas X paket on the spot.

Tepat di sebelah kanan gate IFI Bandung, acara Limunas X menampilkan beberapa hasil foto dokumentasi sedari awal diselenggarakan acaranya hingga edisi ke-sembilan. Tak sedikit juga beberapa kolega kolektif Limunas X dan Omuniuum, khususnya para musisi yang sempat memeriahkan edisi Limunas sebelumnya, ikut bernostalgia ketika melihat bilik yang ditempeli foto-foto tersebut.

Ketika saya sedang ngobrol dengan rekan saya di luar venue, Boit sang pemilik Omuniuum mencakup panitia Limunas teriak dengan lantang, “buat pengen liat aksi Mooner, silahkan masuk!”. Setelah mendengar teriakan Mbak Boit itu, saya dan rekan saya langsung bergegas masuk dalam antrian. Benar saja, seluruh personil Mooner telah hadir di atas panggung dan membawakan salah satu lagunya. Dalam lubuk hati, saya berkata, “untung saja tidak telat”.

Ketika masuk ke dalam venue yang cukup gelap dan hanya bermodalkan cahaya dari atas panggung, saya kembali teringat pada penampilan Mooner sebelumnya, yang juga tampil di IFI. Kala itu, album Tabiat belum dirilis dan Mooner didapuk sebagai opening act untuk Polka Wars. Kembali pada Limunas X, tanpa basa-basi Mooner langsung membuka penampilannya lewat permainan intro yang berlandaskan musik rock 70’an yang dicampurkan dengan nuansa musik ala Timur Tengah.


Mooner (Foto: Alfie Fadhlan)

Menyaksikan performa Mooner pada malam itu cukup berkesan bagi saya, karena selain melihat performa kedua mereka di tempat yang sama, visual latar yang mengiringi selama penampilan Mooner pun dibuat sedemikian rupa, dari penggabungan beberapa penggalan video hingga cover artwork karya dari Diexgrey. Karya tersebut diubah menjadi tampilan negatif, seakan ada unsur psikedelia dalam penampilan Mooner di acara Limunas X ini. Usai intro, Mooner langsung membawakan beberapa lagu yang diambil dari album penuh bertajuk Tabiat, seperti “Ingkar”, “Buruh”, “Ternganga” dan lain sebagainya. Hentakan musik rock yang disulutkan oleh Mooner kala itu tak luput disorot oleh berbagai kamera, baik dari penonton maupun beberapa media.

Setelah sukses membawakan beberapa lagu andalannya, ada satu sesi dimana Mooner menampilkan sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya di atas panggung, yakni mengundang salah satu pemain gendang untuk berkolaborasi dengan mereka. Selepas Mooner membawakan salah satu lagunya, Rekti langsung menyulut permainan bass dengan tempo yang lebih condong pada genre dangdut/psychedelic, dan langsung dilanjutkan oleh permaianan gendang beserta instrumen-instrumen musik lainnya. Penampilan ini membuat saya semakin terkesan. Adalah hal yang baru bagi saya untuk melihat secara jelas musik Timur Tengah dari Mooner. Menuju akhir penampilannya, Mooner kembali mengagetkan saya beserta penonton lainnya dalam venue, karena Mooner membawakan lagu “Dreamer” milik The Slave (Absar sebagai gitaris Mooner dulu merupakan gitaris dari grup The Slave), dan ditutup dengan membawakan lagu Mooner lainnya.


Mooner (Foto: Alfie Fadhlan)

Selepas penampilan Mooner, para penonton kembali keluar untuk mencari udara segar, mengingat venue tersebut cukup pengap dengan ventilasi udara yang kecil. Tak luput saat mereka keluar, paras wajah yang berbinar-binar setelah penampilan Mooner menjadi indikator rasa puas dari penonton. Tetapi, kala itu semua penonton sudah benar-benar menantikan band yang sudah tidak asing lagi di telinga, yaitu Komunal. Para penonton kembali berbondong-bondong untuk masuk ke dalam venue, sekitar beberapa menit setelah mereka menyaksikan Mooner. Tak sabar ingin menyaksikan penampilan Komunal, saya pun ikut terbawa arus antrian yang membosankan.

Setelah melewati antrian yang berulang saat pergantian line up itu, saya akhirnya kembali memasuki area venue Limunas X, dan langsung disambut oleh kegagahan sang gagak hitam dari Kota Bandung bernama Komunal. Kembali ingin mengulang sedikit fenomena tentang penampilan Komunal yang pernah saya datangi, ini kali ke-tiga saya menyaksikan penampilan Komunal yang cukup keren, dan pertama di acara Limunas dengan sangat gagah. Namun, dalam hati saya bergelut heran pada band bergenre heavy metal ini. Setiap penampilannya, setidaknya yang saya datangi, saya mereasa seakan ada energi yang sangat kuat dari mereka. Padahal jika diliat dari kemunculannya, Komunal sering absen dari beberapa panggung tapi sekalinya mereka muncul rasa puas dan ingin menyaksikannya pun tak terbendungi.


Komunal (Foto: Herdina K)

Penonton yang telah menyimpan energi dan bersiap untuk penampilan Komunal diluapkan secara brutal selama penampilan Komunal berlangsung dengan melakukan aksi stage diving. Beberapa lagu andalannya dibawakan, seperti “Manusia Baja”, “Gemuruh Musik Pertiwi”, “Pasukan Perang Dari Rawa”, “Rock Petir” dan lain sebagainya yang diambil secara acak dari tiga album studionya Panorama (2004), Hitam Semesta (2007), dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012). Komunal terus mengibaskan sayapnya tanpa henti kala itu dan membakar panggung IFI bersama dengan energi penonton lainnya. Dan bagi saya pribadi selain merasakan atmosfir berapi-api dari musik Komunal itu, saya sangat terpaku akan latar panggung saat Komunal tampil, yaitu artwork album Gemuruh Musik Pertiwi bertemakan burung Gagak ala Bhinneka Tunggal Ika hasil karya dari Riandy Karuniawan.


Crowd di Limunas X (Foto: Herdina K)

Di tengah penampilannya, vokalis Komunal bernama Doddy Hamson sesekali mengajak berbincang bersama penonton dari atas panggung. Salah satu yang saya ingat seperti ini, “katanya di dalam IFI ini tidak boleh merokok, tapi kalau saya yang merokok tidak apa-apa kan?”. Penonton menjawab, “nggak apa-apa, Mas Dod!”, pria berdarah asli Sumatera Barat itu pun langsung membakar sebatang rokok pertamanya dan musik Heavy Metalnya pun kembali berkumandang di acara Limunas X. Penampilan Komunal dilanjutkan kembali, dan penampilan mereka semakin agresif, terlebih saat membawakan lagu “Ngarbone”. Di tengah lagu tersebut, kegilaan penonton semakin membludak, hingga mereka memberanikan diri untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama Doddy Hamson.


Komunal (Foto: Herdina K)

Selama atmosfer kegagahan Komunal itu berlangsung, Sadath merasa gerah hingga ia melepaskan kausnya. Melihat aksi yang dilakukan oleh Sadath, penonton menyulut ke arah Doddy Hamson yang mengharuskan ia melakukan hal yang serupa seperti Sadath lakukan. Tapi, Doddy Hamson tidak mengamininya, setidaknya hingga beberapa lagu yang lalu akhirnya ia menyerah dan melepaskan kaus berwarna merahnya itu. Apresiasi penonton terus menggila hingga akhir penampilan Komunal. Saya puas dan bangga setelah menyaksikan acara kolektif seperti Limunas 

Rasa puas, bahagia dan takjub akan aksi dari tiga grup rock di acara Limunas X ini dirasakan oleh semua penonton saat keluar dari IFI. Saat saya keluar dari venue, terdengar selintas perbincangan dari penonton lain akan acara Limunas X dalam Bahasa Sunda, “keren pisan euy bieu nu maen teh, puas aing lah” ("keren banget yang barusan pada manggung, saya puas"), ucap mereka.

Inilah pengalaman pertama saya menyaksikan acara Limunas. Semoga di acara Limunas selanjutnya, saya bakal merasakan atmosfir seperti ini lagi, bahkan berharap lebih.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner