Review Album : Mitosmistis – You Can’t Handle The Truth
Hantaman musik elektronik baru oleh grup baru di era milenials.
Sepanjang tahun 2017, Indonesia telah banyak melahirkan album-album fenomenal. Hingga membuat segelintir orang baik itu hanya pendengar musik, maupun pengulas musik yang namanya kerap mengisi kolom-kolom media online saat ini, mengunggah beberapa postingan terkait karya album menarik bagi mereka. Tapi, ada satu album yang mereka lupakan, You Can’t Handle The Truth debut album dari grup baru kelahiran Bandung, Mitosmistis.
Memang terbilang telat untuk Heartless Records, sebagai label asal Bali yang merilis album karya debut dari band yang terisi oleh personil yang sebelumnya tergabung dari beberapa grup musik semacam ; C.U.T.S, Alone At Last dan Nectura ini. Namun, itu memang telah di agendakan oleh Lord (vokal), Deedz (drum), Monodark (gitar), dan Dr.Dhon (synth) ini. Tapi, beberapa waktu sebelum album sulungnya muncul, band ini telah memberi peringatan bahwa karya mereka memang cukup potensial dan layak untuk dinikmati oleh pendengar saat ini, tepatnya lewat karya single yang berjudul “Child Of Rage”.
Terlepas dari intro dua paragraf diatas mengenai Mitosmistis. Dari pihak personilnya secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka membuat satu gebrakan. Semilir dengan apa yang dikatakan oleh beberapa pendengar mengenai karya musiknya di album ini. Oke, dan sekarang album debut ini akan ditelisik untuk mengetahui potensi-potensi yang terdapat didalamnya.
Pada nomor awal, Mitosmistis memberikan sepintas ucapan beberapa bahasa, layaknya anchor ketika memberitakan satu berita melalui layar kaca berjudul “A Light To The Blind”. Dan setelahnya, diikuti oleh efek suara elektronik yang bermelodi seperti beberapa karya milik grup Hollywood Undead, menyusup kedalam telinga yang tak luput gaya vokal centil dari Lord dengan band-nya sebelum ini yaitu Alone At Last. Berlanjut pada lagu kedua, “Escape From Paradiso” mempunyai tempo musik yang mulai dipercepat oleh Mitosmistis dan cenderung lebih menggunakan permainan live band, tapi tetap diselingi dengan efek-efek dari synthesizer. Berpindah ke lagu selanjutnya yang berjudul “Gibberish”, partitur musiknya kembali berubah – begitupun dengan vokal rap-nya. Tapi dilagu ketiga itu, ada yang unik. Herry Sutresna ‘Ucok’ ex.Homicide angkat bicara melantangkan rima demi rima Hiphop-nya, yang sudah tak diragukan lagi kualitasya. Sampai pada lagu ke-4, “Child Of Rage” berperan seperti tongkat estafet untuk album ini, karena di lagu ini partitur aneh seperti sebelumnya tak terlalu banyak. Juga melodinya lebih mudah dicerna, karena ada bagian reff yang diulang-ulang.
Di “Strange Life of Tesla”, seperti pengulangan yang dilakukan oleh Mitosmistis dengan partitur lagu sebelumnya. Tapi lagu ini juga beda, lebih tepatnya kalau didengarkan ke penikmat musik Araabmuzik pasti akan tahu seperti apa nikmatnya lagu ke-5 ini. Lalu bertolak ke lagu ke-6, “Opposition!” lebih terkesan mistis tapi masih related dengan benang merah musik elektronik. Beat-beat didalamnya yang menggebu-gebu pun tak luput dicurahkan oleh Dr.Dhon sebagai pelaku synth. Lagu sangat pantas untuk menendang bokong para pemuda kaum milenial yang menghabiskan masa hidupnya untuk birahi sang kaum hawa. Sampai pada di lagu ke-7, “Lelah” adalah salah satu melodius penuh bius dari Mitosmistis, dan cuma lagu ini yang mempunyai lirik berbahasa Indonesia. Dan inilah save the best for the last dari Mitosmistis di lagu ke-8 atau terakhirnya berjudul “The Longer You Survive The More Suffering In You Life”. Intinya lagu ini adalah penutup yang mengesankan, kalau penasaran seperti apa, segera dengar sendiri dan beli rilisan fisiknya karena band juga butuh kehidupan biar terus berkarya.
Comments (0)