Review Album Besok Bubar - The Ultimate (2015)
"Kapan band elo bubar sih?", "Besok bubar aja lah ribet amat sih tapi dengerin dulu The Ultimate, Kalo berani nandingin ini album, baru elo boleh nyuruh band gue bubar, @#)!&6!". Mungkin selingan tadi adalah sebuah ucapan sekaligus pukulan telak dari trio Amar Gill, Egie Huhaa, dan Rega Vanjiwara yang tergabung dalam komplotan grunge paling diperhitungkan saat ini, Besok Bubar teruntuk telinga-telinga yang cenderung lemah dan merunduk lesu. Mereka bertiga memang mengisyarakatkan takkan bubar jalan begitu saja karena satu pembuktian belum lama ini mencuat yakni sebuah rilisan cukup hebat bernama 'The Ultimate' tepatnya bulan Juni lalu.
Rilisan gahar yang didistribusikan oleh Demajors Indonesia dan berisikan 12 lagu ini kebanyakan materi-materi lama mereka yang baru dijadikan sebuah album penuh. Disini Besok Bubar kembali menyajikan musik rock alternatif atau grunge yang sangat kotor, berat, cepat, dan tegas. Setelah sebelumnya memberi suguhan menakjubkan pada self titled-nya di tahun 2012, kini dalam 'The Ultimate', mereka cenderung tak neko-neko dan sangatlah marah. Ekplorasi sound di 'The Ultimate' sendiri tak terjebak pada musik yang berjaya di era 90an saja, justru musik-musik pre-grunge seperti heavy metal atau crossover begitu terasa. Bayangkan nafas Alice In Chains maupun Soundgarden yang berafiliasi rapi dengan Faith No More, Sepultura, dan Suicidal Tendencies.
Pengemasan lirik yang kebanyakan ditulis oleh seorang Amar lebih terdengar provokatif dan menggambarkan bagaimana kehidupan sosial hari ini sangatlah kacau alias tak beraturan. Kejujuran dan kemarahan dalam lirik-lirik Besok Bubar kali ini membuktikan bahwa mereka bukan band yang mempunyai mulut besar. Dalam hal ini mereka membawa pendengarnya untuk lebih bisa merefleksi kehidupan sekitar. Mulai dari keserakahan korporat (korupsi), hingar bingar gemerlap anak zaman sekarang, sistem pola kerja membosankan sampai membicarakan arogansi aparatur negara serta keroco-keroconya. Tengok saja pada lagu "Babi", "Anak Manja Ibukota, "Monoton", "Big Boss" maupun "Salah Tangkap" yang memang nomor andalan untuk disimak secara seksama. Secara garis besar lirik mereka lebih nge-punk atau dapat dikatakan setara dengan isu yang diangkat oleh band-band punk rock.
Bila Cupumanik mempunyai keharmonisan musik layaknya Pearl Jam atau Stone Temple Pilots, Nicfit dengan kebisingan ala Sonic Youth, maupun Nirvana-esque seperti Freak, maka amukan galak Seattle Sound berpendekatan album awal dari Alice In Chains, TAD, atau Soundgarden, bisa kalian dapatkan di 'The Ultimate' milik Besok Bubar. Percayalah ini album paling ngeyel dan penuh provokasi yang bermakna tajam untuk seukuran grup musik alternatif di tanah air.

Contact:
http://www.besokbubar.com/
https://www.facebook.com/BesokBubarMusic
https://twitter.com/BesokBubarMusic
Foto: Besok Bubar Docs.
Comments (0)