Review Album: Celoteh Bernada Indah dari Pohon Tua
Pembawaan musik folk yang apik berhasil menghantarkan imajinasi pada salah satu daerah yang indah di Bali, Kubu Carik.
★ 3,5/5
Indonesia memang daerah yang menawarkan keindahan alam yang tak ada habisnya. Salah satu daerah yang selalu menarik untuk sepasang mata adalah Bali. Pulau ini memiliki beragam bentuk keindahan alam, terutama lautnya yang membentang luas. Namun, tak hanya itu yang ditawarkan oleh Bali. Ada sebuah panorama indah dari sawah yang menghijau di Kubu Carik. Keindahan yang ditampilkan di panorama ini menarik salah seorang musisi dengan nama proyek musik Pohon Tua untuk kemudian digambarkan dalam album penuh pertamanya, Kubu Carik.
Pohon Tua adalah ruang bermusik untuk Dadang Pranoto, selain bersama Navicula dan Dialog Dini Hari. Pohon Tua merupakan proyek musik terbaru darinya. Proyek musik lahir secara tidak sengaja, hasil dari kolaborasi antara Dadang dengan Eko Prabowo. Ternyata, kolaborasi ini berumur panjang dan lalu menghasilkan delapan buah lagu yang dirangkum dalam Kubu Carik. Album ini dirilis oleh Rain Dogs Records. Di proyek musik ini, Dadang melepaskan diri dari karakter Navicula dan Dialog Dini Hari yang menempel bersamanya.
[pagebreak]
Lagu pertama dinamai “Kancil”. Permainan gitar yang sederhana membawa nuansa teduh, seperti berada di bawah pohon rindang ketika matahari sedang terik-teriknya. Tidak berlebihan, dan mengasyikan. Selanjutnya, lagu dengan tempo yang lebih cepat berjudul "Matahari Terbit". Menurut saya, meskipun judul dan temponya terkesan lebih "hangat", justru nuansa yang disuguhkan terasa sangat dingin, terutama pada bagian awal lagunya. "Matahari Terbit" mengingatkan saya pada salah satu lagu karya solo Eddie Vedder di film "Into The Wild". Lagu kedua ini menggambarkan seperti apa suasana ketika sinar matahari mulai terbit di balik gunung dan sawah, disertai berbagai unggas yang bermunculan dalam hawa yang sejuk.
Selanjutnya, hadir lagu “Jika Sesekali”. Ini adalah lagu yang tepat untuk mengajak bermain, bersenang-senang dengan seruan para pengisi vokal. Variasi musik Pohon Tua semakin kentara ketika memasuki lagu ke-empat, "Hey Ya (Kubu Carik)". Nada-nada sendu dibaluti instrumen banjo terdengar di lagu ini. Kesenduan itu kemudian berubah menjadi riang gembira di lagu selanjutnya, "Suku Bajo". Kocokan gitar yang dimainkan merubah nuansa secara tiba-tiba.
"Hari Ini, Esok Hari" menjadi judul untuk lagu ke-enam. Kembali, nuansa gloomy terasa di lagu ini. Kita sepertinya memang tidak bisa menyangkal bahwa Dadang sangat apik dalam bermain suasana. Selepasnya, petikan gitar terdengar, bersama dengan permainan cajon dan gendang dalam lagu "Ku Harus Tetap Hidup". Bagian reff lagu ke-tujuh ini sangat bagus dan menarik. Bagian ini dimainkan secara cepat, tapi tetap tepat. Terakhir, lagu ini ditutup dengan lagu "Bisik Laut". Sebuah celoteh bernada dengan pembawaan yang santai.
Secara keseluruhan, warna musik dalam album ini memang saling berkorelasi. Namun, ada beberapa pengulangan yang membuat album Kubu Carik belum menyampai titik maksimal. Tapi, hal ini tidak terlalu berpengaruh, karena pada kenyataannya Pohon Tua berhasil menggambarkan lansekap yang ingin ia ceritakan dengan sangat baik.
Comments (0)