Review Mini Album: Fragmen Cerita Bernada dalam Harmoni Folk
Lagu berikutnya di track kedua mini album ini berjudul “Naik Kereta Saja”. Romantisme perjalanan dalam sebuah kereta dirasa punya tempat tersendiri yang melekat di hati dan benak Adhit. Kereta menawarkan banyak hal menarik baginya, ketika terhampar pemandangan menarik di balik kaca jendela kereta api yang ditumpanginya. Riuh renda suara mesin kereta yang dikomandoi masinis agar baik jalannya membawa lamunan Adhit akan sebuah pelarian, with longway to nowhere dengan orang terkasih yang duduk di sebelahnya. Menyisakan sedikit cerita kala ia menyampaikan perasaannya dengan orang tersebut, namun malah berujung merusak suasana. Sebuah cerita tragis yang berujung manis kala mengenang sebuah kebodohan di masa lalu. Karena setelahnya, hari-hari akan berjalan biasa saja dan baik-baik saja.
Kemudian, ada lagu “Dan Ternyata”, yang menariknya dikemas dengan lirik berbahasa Jawa. Dia mengambil resiko, karena tidak semua mengerti dengan apa yang Adhit sampaikan lewat bahasa Jawa tersebut. Tapi, apalah arti bahasa, ketika musik membalutnya dengan sebuah nuansa yang mengikat perasaan Adhit dan pendengarnya. Sampai kemudian, Adhitia Sofyan meneruskan perjalanan musikalnya dalam mini album ini lewat lagu berjudul “Sesuatu Di Jogja”.
Sebagaimana kereta, Jogja jadi sesuatu yang melekat di hati dan benak Adhit. Menyimpan banyak kenangan di kota yang berjuluk daerah istimewa ini. Jogja selalu bisa menuntun kaki Adhit untuk melangkahkan kakinya ke Jogja. Jakarta sudah terlalu ringkih dengan semua carut marut problematika di dalamnya, maka Jogja menjadi pilihan Adhit untuk beranjak kesana. Karena, menurutnya selalu ada sesuatu di Jogja. Entah karena kotanya, atau entah karena ada seorang menunggu di Jogja. Dalam versi Adhitia Sofyan, Jogja adalah nada-nada yang tertinggal ketika dia berada di Jakarta. Nada-nada yang harus ada untuk melengkapi harmonisasi nuansa syahdu dalam suara lembut Adhit lewat lagunya.
Adhit menutup mini album ini lewat lagu “8 Tahun”. Petikan gitar di intro lagu ini adalah penegasan musikalitas Adhitia Sofyan, ketika itu menjadi poin kuat sebagai fondasi kokoh musik folk yang ditawarkannya. Komposisi musik yang dibuat Adhit menjadi pelengkap imajinasinya tentang sebuah kota beserta langitnya. Gradasi biru yang terlukis sampai kemudian berganti jingga adalah siklus yang berputar di dua menit lima puluh dua detik Adhitia Sofyan bernyanyi, akan romansa daun dan ranting yang hilang warnanya.
Foto diambil dari instagram pribadi Adhitia Sofyan, difoto oleh @mariadivar
Comments (0)