Review Sigmun – Crimson Eyes (2015)

Review Sigmun – Crimson Eyes (2015)

       Menyelami Lautan Progresi Si Mata Merah         

Sigmun band Cover Artwork Crimson EyesButuh waktu tak sebentar untuk mencerna album perdana dari empat sekawan asal Bandung yang mengusung warna psych/blues rock, bernama Sigmun ini. Ya, dalam paket yang mereka namakan Crimson Eyes ini banyak sekali unsur-unsur magis tak biasa hingga eksperimentasi kelas wahid dibandingkan dua rilisan sebelumnya yakni Land Of The Living Dead dan Cerebro. Haikal Azizi, Nurrachman Andika, Mirfak Prabowo dan Pratama Kusuma tak segan-segan melampiaskan kemampuan terbaiknya demi album satu ini. Nyatanya pula memang si “Mata Merah Tua” sungguh dinanti oleh para penggemar mereka lumayan lama dan ekspektasinya pun tak begitu mengecewakan. Meski juga part-part yang dihasilkan agak mengerenyutkan dahi karena memang banyak hal baru dan butuh adaptasi lebih dalam terhadap Crimson Eyes.Review Sigmun Crimson Eyes

Mari mulai selami Crimson Eyes dengan permukaan paling awal yaitu “In The Horizon”. Berisikan melodi yang berhamburan begitu lambat diiringi juga ketukan drum yang sama lambatnya. Disini vokal Haikal tak terlalu terdengar karena ditutup dengan bebunyian utama instrumental pada musiknya. Lanjut pengarungan kita ke lantunan yang terdengar cukup jahanam dengan titel “Vultures”. Kalau boleh jujur inilah salah satu trek favorit dalam Crimson Eyes dari penulis. Riff repetitif dan tempo naik-turun untuk menyembah sang burung bangkai tak membuat rasa ini jengah malahan kepala selalu ingin mengangguk tegas. Errghh! Lalu temukan kembali ‘kelambatan’ yang memabukkan di “Devil In Disgusise”. Kalian harus rasakan dentuman yang tak biasa dalam trek ini. Setan siap mencambuk!

Review Sigmun Crimson EyesSigmun kembali menegaskan bahwa kualitas menjadi modal utama dalam bermusik. Ini ditunjukkan dalam tembang “Halfglass Full Of Poison”. Skill mereka diadu dengan bebunyian prog rock yang intens dan tak kenal rasa lelah. Kemudian ritual doa pengampunan dosa yang mengerikan hadir dalam “The Summoning”, liukan bluesynya membius tajam sampai sel-sel otak. Untuk selanjutnya tenangkan diri kalian dan jenguklah bahwa dalam “The Gravestones”, Sigmun mengamuk dengan tumpahan riff dan drumming yang menggelora. Begitupun Haikal yang tak ada rasa ampun untuk batu nisan satu ini. Hujanan melodi gitar psikadelia kembali digempur sangat rapi dalam trek dengan ngaran “Prayer Of Tempest”. Kembali suara Haikal menjadi pilar disini. Sungguh aduhai! Selebihnya dua trek kedepan, sebut saja “Inner Sanctum” dan “Golden Tangerine” sama-sama mempunyai cita rasa yang manis untuk disimak, hanya saja durasi yang mengendur lama layaknya suguhan post-rock yang mengawang dan tak sabar untuk melangkah ke dua trek terakhir.

Penyelaman belum berakhir sampai situ karena “Aerial Chateau” telah menanti di depan mata. Lagu ini memang telah dikenal oleh para penggemar Sigmun, karena cukup sering dibawakan ketika mereka live. Teriakan menakutkan Haikal diiringi permainan gila tiga personel lainnya adalah senjata ampuh untuk trek satu ini. Akhirnya penyelaman harus diakhiri dengan rasa kagum, karena “Ozymandias” yang menggetarkan itu telah memuaskan telinga maupun kepala, karena guncangan antara stoner rock, psych hingga progresinya. “Crimson Eyes” telah memberi kurang lebih satu jam lebih pengalaman penyelaman atmosferik papan atas yang cukup berarti dan terbilang mengesankan bagi para penggemar (berat)nya.

Haikal Azizi Sigmun Crimson Eyes

Rating Penilaian : 7,5/10

Foto: Karel, Ghafur & Sigmun Docs.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner