Riko Prayitno ‘Mocca’: Otentisitas Lebih Penting dari Skill
Gitaris Mocca Riko Prayitno mengaku masih banyak gitaris yang lebih hebat darinya. Dirinya juga bicara betapa menyedihkannya scene musik Bandung yang melahirkan band-band prematur, pemerintah yang mempersulit musisi dan tema sosial dibalik musik Mocca yang dilabeli lagu cinta.
Sementara Arina Epiphania merias diri, Indra Massad mengobrol dengan beberapa anggota Swinging Friends yang menghampiri ke hotel dan Achmad ‘Toma’ Pratama masih dalam perjalanan, Riko Prayitno menyempatkan diri untuk berbincang bersama tim Djarum Coklat di beranda hotel, tak jauh dari lokasi manggung Mocca, di wilayah Cikutra, Bandung. Bersama kopi dalam cup kertas yang sepertinya ia dapatkan dari lobi hotel, Riko menceritakan nostalgia Mocca bermain kembali di acara musik Superbad dan pemikirannya tentang skena musik di Bandung saat ini.
T : Setelah sempat tampil di Superbad #15 tahun 2009, Mocca kembali menjadi line up di Superbad #69 Mei lalu. Bagaimana pengalaman yang dirasakan Mocca untuk tampil di panggung seintim ini lagi setelah sekian lama?
J: Kita kalau manggung di luar memang biasa masang-masang alat sendiri. Buat kita sendiri itu bukan hal yang memberatkan. Tapi ya, main di tempat seintim itu baru kemarin. Rasanya kayak refreshing. Semua band besar menurut saya harus melakukan hal itu, untuk tau roots mereka di mana. Untuk tau kenapa mereka bermain band. Itu bias ter-remain dengan manggung di Superbad.
T : Apa pendapat Riko soal kurasi yang dilakukan oleh Superbad?
J : Dalam Superbad ini bisa dibilang ada artis awal, artis middle dan yang punya nama. Mungkin semacam kenaikan kelas, mungkin beberapa tahun kemudian band yang tadinya masih awal bisa menjadi paling atas. Ini bisa dibilang mendidik scene juga. Kuratornya Om Ameng dan Mba Keke cukup kompeten untuk hal itu. Kadang-kadang kita bingung, ini band apaan. Tapi ternyata oke juga. Mereka bisa menemukan faktor x itu.
T : Bagaimana dengan gigs dan scene musik di Bandung, apakah Riko memperhatikan perkembangannya saat ini?
J : Gigs di Bandung sekarang jelek (tertawa). Sebenarnya bukan gigs dan scene-nya yang jelek, tapi lebih pada adanya keterbatasan. Katanya bangga dengan musik Bandung, harusnya semua pihak mau mendukung. Ini ada beberapa pihak yang menyulitkan banget, kayak sulit ngasih izin. Ini berpengaruh banget untuk kelangsungan hidup musisi Bandung.
T : Apakah memang ada perbedaan besar antara jaman sekarang dan dulu dalam masalah perizinan di Bandung?
J : Besar banget. Karena hal ini banyak bermunculan band berbasis akustik juga di Bandung, ya mau gimana lagi. ‘Ada drum, ga boleh terlalu berisik. Mending pakai kajoon’. Padahal sebenarnya kajoon sama sekali tidak merepresentasikan drum. Jadi ya, pertumbuhan band di Bandung sangat amat kurang. Mungkin lahirnya band masih terjadi, tapi kesempatan untuk manggung engga ada.
“Masalahnya, kalau gigs kecil terus, mereka bakal terus ada di kolam kecil. Seharusnya ada tingkatan gigs kecil, menengah dan besar. Jadi pembelajarannya sampai tuntas. Ketika ada Bandung melahirkan band baru, kualitasnya prematur, karena engga ada gigs menengah.”
T : Bandung sedang diramaikan dengan maraknya micro-gig. Apakah tren ini membantu pembelajaran bagi band-band baru atau justru membuat mereka berjalan di tempat?
J : Ini salah satu gig yang cukup membantu pembelajaran bagi band baru. Mau gig di kafe kecil juga asal serius. Masalahnya, kalau gigs kecil terus, mereka bakal terus ada di kolam kecil. Seharusnya ada tingkatan gigs kecil, menengah dan besar. Jadi pembelajarannya sampai tuntas. Ketika ada Bandung melahirkan band baru, kualitasnya prematur, karena engga ada gigs menengah. Sekarang gigs besar hanya diisi band besar, karena panitia juga engga tau band apa saja yang sekarang muncul.
T : Ada kecenderungan keseragaman genre yang terjadi setiap tahunnya di scene musik Bandung. Menurut Riko, kenapa hal ini bisa terjadi?
J : Ini sih memang sejak lama terjadi. Contohnya, musik folk yang menjamur di Bandung karena keterbatasan tadi. Engga bisa manggung di Bandung, ya genre ini paling memungkinkan. Paling bermodalkan gitar dan vokal, manggung di tempat kecil juga bisa. Kalau band metal, lumayan susah juga. Scene itu lahir gara-gara keadaan. Masalah musik yang lagi tren sekarang, karena ada lokomotifnya juga. Folk bisa dibilang banyak yang terinspirasi dari Payung Teduh,
Karena jadwal manggung yang semakin dekat, kami memutuskan untuk berjalan menuju venue. Sambil turun melalui tangga darurat dan melalui jalanan Cikutra yang cukup padat malam itu, pembicaraan terus berlanjut. Riko memiliki harapan besar bagi skena musik Bandung dan sangat menyayangkan keterbatasan keadaan yang nampaknya telah memenggal hal tersebut. Mocca lahir ketika perkembangan musik di Bandung dalam masa gemilang. Adanya berbagai faktor pendukung di masa itu, membuat Mocca kini menjadi bintang di panggung-panggung besar, namun tetap dengan cetak biru yang mereka bawa sejak awal.
T : Apakah ada band yang menurut Riko terinspirasi dari Mocca juga?
J : Wah, kalau gitu narsis banget ya saya (tertawa). Ya, mungkin ada beberapa. Mungkin Little Lute, ya.
T : Memang sejauh ini tidak ada band Bandung yang betul-betul mirip dengan Mocca, kalau terinspirasi nampaknya banyak.
J : Sebenarnya itu hal terpenting. Menurut saya, kalau hanya jadi copycat bakal tergusur hukum alam.
T : Ada ungkapan, society’s changing, music’s changing. Tapi toh musik Mocca sampai saat ini masih punya penikmat dan tetap bertahan. Apakah Riko setuju dengan ungkapan itu?
J : Ini kayaknya masalah generasi. Bisa ga sebuah musik menembus jaman. Banyak faktor yang mendukung hal ini, misal faktor produksi dan manajemen. Jadi kalau sekarang Mocca punya banyak pendengar baru, kita mensyukuri saja.
T : Dari faktor-faktor yang ada, apa yang membuat Mocca bisa menembus jaman hingga saat ini?
J : Swinging Friends. Kalau mereka ga ada, kita juga ga akan ada. Selain itu, kami juga punya tim manajemen yang solid dan tepat untuk mengurus Mocca.
“Kalau dicari pemain gitar yang lebih jago dari saya itu banyak banget.”
T : Selama 18 tahun ini Mocca tidak pernah kehilangan ciri khas dalam bermusik. Apa yang membuat Mocca bisa berkarya dengan musik yang konsisten dari awal hingga kini?
J : Karena orangnya sama. Kita sebenarnya sudah kayak keluarga besar. Kalau dicari pemain gitar yang lebih jago dari saya itu banyak banget. Kita ingin bersama-sama satu keluarga untuk bersenang-senang di atas panggung. Jadi dibawa fun juga.
T : Di luar bermusik dengan Mocca, Anda memiliki projek musik bersama The Triangle. Apakah ini berpengaruh dalam pembuatan musik Mocca?
J : Ngaruh, ngaruh banget. Saya banyak belajar, bertemu orang-orang baru dan angle songwriting mereka beda sekali dengan saya. Jadi saya, kayak me-refresh lagi. Ternyata banyak cara-cara lain. Saya jadi belajar dari awal lagi.
T : Ada penambahan synthesizer pada album Home. Dalam interview yang saya baca, Mocca pun melakukan perubahan dalam membuat struktur lagu. Apakah Mocca memang ingin musik yang mengikuti perkembangan jaman atau lebih kepada kepuasan dalam berkarya?
J : Sebenarnya untuk soal itu, kita ga punya ekspektasi besar untuk album ini. Kita cuma ingin bikin album, that’s it. Soal disukai atau engga, wallahualam. Ketika kita bikin album ini, kita mau yang berbeda. Pattern yang ada ga kita pakai lagi. Lagu Mocca biasanya drum-nya swing, pakai gitar akustik dan nada flute, itu kan kayak stereotype banget dari orang-orang. Kita ga mau pakai pattern itu lagi.
T : Anda pernah mengatakan Album Home merupakan kisah perjalanan menuju rumah. Setelah mendengarkan dengan seksama, kata home dalam album ini nampaknya lebih merujuk pada seseorang dibandingkan tempat. Siapa atau apa sebenarnya Home ini untuk Mocca?
J : Dalam lagu Home, ada lirik yang berbunyi, ‘warm hug is a home’. Di situ, kita sudah menemukan rumah, yaitu pelukan di keluarga masing-masing.
T : Mocca memulai karir ketika masih duduk di bangku kuliah. Dengan personil yang sudah memiliki keluarga masing-masing, adakah perbedaan yang dirasakan ketika menulis lirik untuk Mocca?
J : Sangat berbeda. Sebagai seniman kita butuh muse. Kebetulan saya sebagai songwriter, muse saya lingkungan dan teman. Sekarang saya menemukan muse baru. Kita juga menemukan, ternyata tempat kita di sini. Kita menemukan different view, different angle. Banyak muse baru yang saya dapatkan, buat saya terutama keluarga. Kayak lagu Building Memories, itu saya persembahkan untuk anak saya. Saya punya banyak janji untuk dia dan mau membangun kenangan manis untuk dia.
T : Lagu Mocca sendiri multi-interpretasi, tapi kebanyakan orang mungkin mengidentikkan Mocca dengan lagu cinta. Apakah kalian merasa terganggu akan pelabelan ini?
J : Lagu Mocca banyak yang begitu. Kita orangnya nyantai dan enggak mau terlalu serius. Kayak lagu You And Me Against The World, kesannya tentang lu sama gue menentang dunia, padahal sebenarnya ini tentang Baby Jim Aditya. Kita pernah ketemu dan ngobrol. Gila aja, dia sendirian datang ke tempat supir truk nerangin tentang AIDS dan kondom. Dia tuh cewek tapi seberani itu. Saya respect banget sama dia, makanya bikin lagu ini. Sama halnya kayak lagu Promises, itu janji kita sama Mother Earth. Kalau di radio request lagu judulnya Banjir Melanda, kan ga enak banget (tertawa). Makanya kita bikin baru. I Love You Anyway juga sebenarnya tentang Indonesia. Ya, Indonesia kan berantakan, ngaret, tapi kita tetap cinta. Lagu You Don’t Even Know Me juga tentang scene musik.
T : Apakah Mocca melakukan hal yang sama pada album Home dalam penulisan lirik yang saru?
J : Bandung sih. Kita semua punya momen spesial dengan Bandung dan sering merindukan Bandung. Menurut kita, Tuhan menciptakan Bandung ketika dia tersenyum. Ketika orang menonton video klip Bandung, banyak orang yang punya keterkaitan khusus dengan Bandung tau banget feel lagu ini. Kalau orang Malang dengerin lagu ini, mungkin ya sudah. Kebetulan kemarin di-endorse Ridwan Kamil. Ya, lumayan lah ada band yang di-endorse sama walikota. Kapan lagi.
T : Apa tidak ada ketakutan dianggap sesuatu yang bermuatan politis?
J : Itu sih terserah (tertawa). Kita cinta Bandung, lu cinta Bandung, ya sudah kita jalan sama-sama. Kita inginnya orang melihat, Bandung punya anthem yang dibikin Mocca, band indie. Saya inginnya di beberapa kota lain punya anthem yang dibuat sama band indie juga. Misal, ‘Ayo lah kita bikin anthem tentang Malang’ dan akhirnya didukung sama pemerintah kota mereka. Soalnya biasanya semua projek pemerintah butut (jelek) (tertawa). Ada perencanaan apa-apa, pelaksanaannya sulit.
Bisingnya suasana di dekat panggung tempat kami berdiri tak lantas menginterupsi Riko yang menuangkan pemikiran-pemikirannya yang mengalir deras. Sesekali pembicaraan itu diselipi tawa. Sejak awal Mocca menjadi musisi yang bergerak secara independen, tidak ada embel-embel bantuan pemerintah atau semacamnya ketika mereka terbang lintas negara untuk mengenalkan musik mereka. Di sisi lain, ada kekecewaan yang Riko rasakan setelah mendapatkan treatment luar biasa dari negara lain. Riko merasa ada potensi yang pemerintah sia-siakan dari kehadiran band-band Indonesia berkualitas yang namanya kini dikenal baik bukan di tanah air kelahirannya.
“Sebetulnya musisi-musisi di Indonesia itu musisi paling berani, karena engga ada jaminan.”
T : Tapi faktanya memang tidak ada dukungan khusus untuk musisi dari pemerintah.
J : Bukan cuma Bandung, malah Indonesia. Sebetulnya musisi-musisi di Indonesia itu musisi paling berani, karena engga ada jaminan. Kalau mau bikin KPR ke bank aja susah. Dulu saya sempat diwawancara sama media nasional dan ditanya kalau ke luar negeri bawa nama negara atau engga. Ya jelas engga, kita mah bawa nama band. Saya bangga jadi orang Indonesia, tapi tidak bangga jadi Warga Negara Indonesia (tertawa).
T : Banyak band yang sering manggung di luar negeri dan hanya mendapatkan statement, ‘Ini dia band yang mengharumkan nama Indonesia’. Tidak ada tindak lanjut apapun dari negara. Jika ada bantuan yang pemerintah bisa berikan untuk musisi lokal, bantuan seperti apa yang kalian inginkan?
J : Padahal sebenarnya ini bisa jadi devisa negara. Waktu kita manggung di Jepang, di website mereka ada pengumuman khusus soal jadwal manggung kita. Di sana juga dijelaskan soal Mocca dari Bandung, sampai ada peta yang menunjukkan posisi Bandung. Di sana juga ada penjelasan soal Indonesia dan masakan dari sini. Sebenarnya kita jadi kayak semacam delegasi Indonesia. Kita juga ga minta yang neko-neko, ntar kita dibayarin atau apa. Kita usaha sendiri, kok.
Kita sempat diundang sama salah satu Pemda di Korea Selatan. Bayangin, cuma Pemda. Tapi, kita benar-benar disambut baik di sana. Mulai dari treatment, branding kita di mana-mana, padahal acaranya ga begitu besar, segede “CCF” lah. Bahkan pemerintah setempat sampai membuat kompilasi khusus musisi independen yang ada di sana, walaupun akhirnya yang terkenal K-Pop, ya. Soal bagus atau engga itu selera, ya. Swedia juga sama, saya pernah dikasih kompilasi 150 band indie di sana dan itu dibuat pemerintah. Saya jadi mikir, duh kapan bisa kayak gini.
Delapan belas tahun berkarya bersama Mocca dan menyelami skena musik independen Bandung membuat Riko Prayitno mendeteksi lemahnya perkembangan musik di Kota Bandung saat ini. Kepekaan Riko dalam memahami lingkungan sosial membuatnya tidak hanya memunculkan keluhan, melainkan solusi itu sendiri. Andil tersebut juga muncul dalam saru penulisan lirik-lirik Mocca yang bagi sebagian besar pendengar diinterpretasikan sebagai lagu cinta.
Comments (0)