Riset dan Pendalaman Konten Selamatkan Kapital di Pengadilan Musik

Riset dan Pendalaman Konten Selamatkan Kapital di Pengadilan Musik

Kembali ke ruang persidangan, pertanyaan dibuka oleh Budi Dalton yang menyoroti tentang ketertarikan Kapital untuk menyertakan alat musik tradisional Kalimantan dalam lagu-lagunya. Akbar menjelaskan bahwa mereka mulai menyertakan instrumen etnik Kalimantan sejak album Teror dari Belantara. Tujuannya adalah mereka ingin karya ini tidak hanya menjadi portofolio Kapital, tapi juga untuk menjadi tongkat estafet ke generasi muda agar lebih mengenal budaya, khususnya budaya Kalimantan yang diwakili lewat karya Kapital. Ada fenomena bahwa ketika satu panggung seni etnik diselenggarakan, penontonnya terbilang sedikit. Kapital berpikir bahwa lewat musik modern yang mereka mainkan, penyampaian tentang hal-hal yang berbau budaya akan lebih mudah sampai pada anak generasi milenial ketimbang lewat cara konvensional.

Lebih mendalam soal Mantra, Kapital bercerita di awal penggarapan, mereka sempat mengurasi beberapa mantra dari berbagai suku yang ada di Kalimantan. Beberapa mantra kemudian mereka sertakan, seperti dalam lagu “Mantra” terdapat rapalan mantra dari Desa Adat Kedang Ipil. Mantra yang dirapalkan adalah tentang berkah dan keindahan alam Kalimantan. Yang menjadi unik, mengingat mantra-mantra ini dipakai untuk ritual yang bersifat sakral, Kapital harus mendapatkan bantuan dari pelaku adat untuk meminta izin pada dimensi yang biasanya diberi persembahan mantra, bahwa mantra ini akan dipakai tapi bukan untuk keperluan ritus.

Dari pembahasan ini, Jaksa Penuntut menjadi lebih kritis, terutama Pidi Baiq. Ia membahas tentang prosedur yang biasanya wajib dilaksanakan, karena penggunaan hal-hal yang bersifat sakral tidak bisa dilakukan secara asal. Ia juga menyoroti tentang alasan kesediaan tetua adat dalam pemakaian alat musik ritual mereka. Selain karena Kapital memiliki tujuan positif yaitu merekam jejak budaya agar bisa sampai ke anak-anak di generasi selanjutnya, sejauh ini tidak ada yang merekam kolaborasi alat musik etnik dengan modern secara profesional, dan kedua hal itu membuat tetua adat menjadi tertarik dan bersedia untuk membantu Kapital.

Seperti juga ketika membahas alat musik Sape yang dimainkan. Meski secara tidak langsung Kapital seperti merubah posisi, yang tadinya Sape dipakai untuk ritus-ritus sakral menjadi bagian dari sebuah aransemen musik modern yang tidak bersentuhan dengan ritual apapun, Kapital tapi tetap mengagungkan alat musik leluhur tersebut. Contohnya, ketika mereka tampil di salah satu acara, Kapital meminta tolong agar seniman Sape yang diajak berkolaborasi jadi unsur yang dikedepankan ketimbang Kapital itu sendiri.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner