Salah Satu Pembangkit Musik Emo Untuk Berjaya Kembali, Sunrise
Kemarin kalian udah bikin rilis party kan untuk album fisik, kalau rilis digital sejak kapan kalau boleh tau ?
Kalau digital sih kita rilisnya bulan Oktober 2017, kalau fisik Januari 2018.
Gimana sih awal mula kalian terbentuk sampai bisa bikin album ?
Kita sebenarnya terbentuk di tahun 2012. Terus jalan aja seiring dengan waktu sampai kita pernah ganti personil juga. Tepatnya gitaris sama basis kita, udah gitu kita cari personil lain biar formasinya lebih lengkap dan jadinya kayak sekarang. Memang terbilang lama juga sih buat kita untuk rilis materi album. Tapi sebelum album S/t yang baru-baru ini rilis, kita sempat ngeluarin EP di tahun 2014 dulu yang sekaligus menjadi penanda formasi Sunrise sekarang terbentuk. Bisa dibilang kalau bentukan dari formasi awal dengan yang sekarang, kita ‘rebranding’ sih. Sampai tahun 2016, kita mulai kepikiran buat rilis album lagi. Terus, udah gitu yaudah kita mulai bikin kampanye untuk kembali ngenalin diri kita ke banyak orang lewat single pertama yang beda dari EP sebelumnya, judulnya “Break Break”. Sederhana sih, kenapa kita rilis album. Karena kita merasa publik udah mulai melirik nih ke kita, dan kita nggak bisa lagi bikin karya seperti EP dulu, dan akhirnya single pertama dari album kita itu rilis di tahun 2016 akhir. Sembari waktu itu juga kita nulis lagu lain buat dimasukin ke album S/t ini. Lepas dari single pertama, kita rilis lagu dua single untuk bridging ke album penuh, judulnya “Sad Song” dan “I’ll Story To Tell (Unbreakable).
‘Rebranding’ yang ada di Sunrise ini ngaruh secara musikalnya juga nggak ?
Banget. Kalau kita dengerin pas waktu EP dulu, musik kita masih muda banget. Kayak kita bikin lagu 'yaudah bikin lagu aja', masih belum tau dampaknya kayak gimana, sama jati dirinya juga belum ada. Dulu gini, pas waktu bikin EP itu, kita sesuain kayak gimana panggung yang kita mainin sama materi yang kita bawain. Jadi kita bikin lagu yang kalau dibawain di atas panggung itu keren kesannya. Itu kita waktu dulu, kalau sekarang menurut kita lebih dewasa sih musiknya Sunrise dan lebih nyata dari segi lirik, karena semuanya memang lebih dipikirin lebih matang. Termasuk lirik-lirik berbahasa Indonesia di album ini, itu juga satu hal yang memang kita pikirin. Menurut kita karena Sunrise band Indonesia, pasti publik lebih menerimanya lagu berlirik bahasa Indonesia dan itu lebih susah juga bikinnya. Apalagi musik Emo/Post-Hardcore kayak gini, bukan pop atau rock pada umumnya. Kita menyiasatinya gimana kita bikin lirik bagus tapi pas lafalannya cocok dengan musiknya, dan akhirnya muncul album s/t ini.
Kalau dari album s/t ini, ada benang merah khusus nggak yang mendominasi dari seluruh lirik 8 lagu didalamnya ?
Tentang kekecewaan sih. Tapi nggak mencakup tentang percintaan aja, banyak juga semacam pertemanan, agama dan lain sebagainya. Kayak kita bilang tadi, di album ini Sunrise memang jujur banget. Karena di liriknya kita nggak ngarang, maksudnya memang hal-hal yang dialamin oleh lima personil dari band ini.
Yang nulis satu personil atau semuanya juga ikut nulis lagu di album ini ?
Sebenarnya yang nulis itu cuma Putra, tapi untuk idenya semua personil.
Comments (1)