"Say Hi Before you Smile", Karakter Hangat Dari Band Asal Tasik, Hi!

Hi menamakan musiknya dengan sebutan ‘inimusikkami’, dimana hal tersebut sebagai bentuk penegasan jika secara musik, mereka enggan mengkotak-kotakannya ke dalam satu jenis musik saja.

Tahun 2016 menjadi satu hal penting bagi Ara (vokal), Sandy (gitar/kibor/back vokal), Sendy (trumpet), Lucky/Acun (gitar), Graha Prasetya/Aga (bas), dan Muhammad Agastian/Agas (drum), kala mereka membuat wadah bermusiknya dengan nama Hi. Dengan mengusung musik folk sebagai identitas karyanya, band yang punya nama singkat ini menawarkan folk dengan warna dan sentuhan berbeda, dan tentunya menjadi satu hal yang menggembirakan bagi khasanah musik dalam negeri, khusunya ranah musik independen di Tasik. Kota tempat band Hi bernaung dan mendeklarasikan diri sebagai band daerah yang mampu muncul ke permukaan, bersanding dengan band-band asal kota urban di arus utama.

Satu yang menarik dari band ini, selain secara musik, secara visual juga mereka punya kekhasan yang bisa dibilang terlihat eye catchy, terutama sang vokalis, Ara, yang kerap tampil dengan ornamen khas ala indian atau sesuatu yang bisa dibilang etnik pada olah tata busana yang dikenakannya, atau pun Sendy yang kerap tampil dengan warna rambut yang berbeda-beda. Atau merunut pada istilah yang dia utarakan dengan penuturan jenaka, menjadi ‘dibadut-badut’.

Ditemui disela-sela syuting DCDC MusikKita, Anisa menuturkan jika dirinya cukup terpengaruh dengan musisi seperti Lana Del Ray dan Elda dari Stars & Rabbit. Cukup menjelaskan kenapa pada akhirnya karakter suaranya sedikit mengingatkan pada dua orang vokalis tersebut. Namun bukan lantas Hi tidak mempunyai kekhasan atau pola kreasi seru untuk disimak.

Dengan musiknya yang terbilang ramai tersebut, Hi menjadi salah satu band, yang akhirnya bisa membawa citra folk terasa lebih segar, dibanding pola-pola seragam, yang kerap dihubungkan dengan hujan atau pun senja, yang harus diakui mulai membosankan. Meski ketika disinggung tentang warna musiknya sendiri, Hi tidak mendapuk bandnya memainkan musik folk, namun mereka menamakan musiknya dengan sebutan ‘inimusikkami’, dimana hal tersebut sebagai bentuk penegasan jika secara musik, mereka enggan mengkotak-kotakannya ke dalam satu jenis musik saja.

Hi mampu membawa warna tersendiri, dengan adanya instrumen tiup juga karaker suara sang vokalis, membuatnya menjadi yang paling muncul ke permukaan di ranah musik Tasik. Dengan tema-tema ringan seputaran cinta, Hi mampu menerjemahkannya dengan balutan musik menarik, serta penjabaran lirik, yang meski mungkin klise tapi mampu menemukan notasi yang pas sebagai ‘rumah’ dari lirik tersebut. Perihal EP nya sendiri, sang drummer Agas menuturkan dengan gaya komikalnya, “kenapa kita menamakan EP kita Autumn. Itu kan artinya musim gugur, nah jadi kita pengen bilang kalo yang gugur itu bukan cuma daun, tapi hati juga bisa gugur”, ujarnya yang disambut tawa pecah dari para personil yang lain.

“Say Hi before you smile”, jadi satu jargon yang paling sesuai dan kerap mereka gaungkan untuk menggambarkan karakter band ini, dan kata Hi sendiri awalnya dipilih sebagai nama band, didasari dari sang vokalis Ara yang kerap menyapa teman-temannya setiap kali hendak latihan musik di studio Agas. Karena seringnya Ara mengucapkan Hi, akhirnya para personil yang lain terinspirasi untuk menjadi hal tersebut sebagai nama bandnya. Sapa salam hangat lewat musiknya, penampilan Hi dapat disimak dan diulas lebih banyak di program DCDC MusikKita yang bisa disaksikan pada hari Sabtu, 15 Juni 2019 di GTV, pukul 23.00. Mereka akan tampil sebagai salah satu band dari wadah DCDC Shout Out. Jadi jangan sampai kelewatan ya coklatfriends!

BACA JUGA - Dinamika Perjalanan Musik Angsa & Serigala

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner