Seakan Belajar Bahasa Sarkastik Dengan ‘Eminem’ (Versi Indonesia)

Seakan Belajar Bahasa Sarkastik Dengan ‘Eminem’ (Versi Indonesia)

Mardial dan Joe Million mengedepankan kebolehan mereka berakselarasi dalam lirik-lirik rap yang per kalimatnya terbilang panjang

Lewat lirik-lirik enerjetik di singel ‘Sakaratul’, duo rapper ini menunjukkan bahwa seni dalam hip-hop tak sebatas musik yang enak dibawa ngangguk-ngangguk atau geleng-geleng semata (sambil mengayun-ayunkan tangan + jari secara sembarang). Lebih dari itu, Mardial dan Joe Million mengedepankan kebolehan mereka berakselarasi dalam lirik-lirik rap dengan sangat cepat. They are fast, like the flash duo. Karakter lirik mereka melantunkan beberapa punch yang rapat dan padat, seakan menyelipkan dugaan kuat bahwa mereka adalah Eminem-nya Indonesia.

Mardial mencoba tajam dengan lirik-liriknya, meski ambiguitas dan unsur-unsur metafora masih sering kita temukan pada barisan liriknya. Meski begitu, ada beberapa gambaran eksplisit yang tetap bisa kita gunakan untuk merasakan apa yang duo ini sedang ‘hujam’.

“Dengan celana pendek aku terima beat ini / Aku masih ‘indopenden’ juga tampan hingga kini / Aku sangat peduli dengan opini mu yakini” – Mardial seakan mengajak kita menelisik makna-makna sarkas, salah satunya perihal stigma hip-hop populer, bahwa celana anak rap harus panjang dan gombrang. Dan kata ‘indopenden’, hmm, ini menarik.

“Suatu hari nanti engkau bisa mendekati / Pantatku yang cantik dan cium sepenuh hati / Bukti cinta yang sejati aku bantu selebrasi” – saya akan salah besar bila kata ‘cantik’, ‘cium’, dan ‘cinta’ saya maknai sebagai tanda-tanda asmara milik sepasang insan kasmaran. ‘Sakaratul’ sedang lantang bicara politik. Aura sarkas semakin kental ketika selanjutnya saya bertemu lirik “Aku tidak enak hati macam makan tanpa vetsin” – pertanda duet ini punya kegelisahan tentang fenomena ‘zaman now’.

Selain kesan kritis, lirik lagu ini juga bermuatan sastra yang cukup puitik. “Tinggalkan kantor / Aku tinggal terlantar / Semua tinggal kenangan / Aku 100% tambah 1 stres” – menggambarkan ironi bahwa keluar dari rutinitas kerja kantoran memang sejenak menimbulkan rasa ‘merdeka’, meski setelahnya tinggal menunggu stress datang.

Masih ada varian rasa sarkasme yang lagu ini tawarkan, sehingga lagu ini cocok menemani kalian merenung via musik yang urban dan nge-beat. 

Sumber Foto : MXM

BACA JUGA - Kreasi Elastis Dari Reality Club

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner