Sebuah ‘Roller Coaster’ Perasaan Tersaji di ‘Balakosa Tour’ Iksan Skuter
Dilanjutkan dengan lagu “Papua Ku Cinta”, Iksan seakan menjadi perpanjangan tangan dari apa yang saudara kita di Papua untuk menyuarakan isi hatinya. “yang pasti kami bukan anak haram semesta. yang pasti bukan anak Amerika, Australia, Malaysia. Kami tercipta karena konspirasi dunia. Yakinkan kami anak siapa”, sebuah pernyataan dan pertanyaan getir yang Iksan tangkap dari saudara kita orang papua. Terasa 'dalam' dan di banyak sisi sanggup menampar.
Berikutnya, Iksan membawakan lagu "Pulang". Lagu yang selalu sukses membuat banyak orang Ingat 'rumah' ini dilanjutkan dengan lagu “Bapak” dan "Shankara” yang makin syahdu dengan permainan biola dari Prisha Sebastian. Hingga setelah dibuat larut dengan tingkah pola dawai biola dari Prisha, Iksan melanjutkan keriaan dengan mendaulat Yoga PHB ke atas panggung. Hal ini sukses membuat penonton beranjak dari tempat duduknya, untuk kemudian berjoget bersama di lagu “Partai Anjing”.
Setelahnya, seakan enggan mengakhiri keriaan di atas panggung, Iksan juga mengajak Bane “Rosemary” untuk sama-sama menampilkan ‘agnostik folk’ (folk yang tidak percaya pada folk itu sendiri, karena dalam hal ini Iksan menggabungkannya dengan dangdut. Musik rakyat yang selalu sukses membuat penonton berjoget bersama). Ditutup dengan lagu “Bingung”, malam itu Iksan sukses menjadi ‘dirijen’ yang memimpin banyak orang untuk bersuara agar tetap menjadi manusia yang tidak lancang menggantikan peran tuhan. Lewat lagunya Iksan mengajak penikmat karyanya agar tetap menjadi "manusia yang manusia". Malam itu, bukan hanya tentang gelaran keriaan yang dipicu oleh rangkaian tour album Iksan Skuter saja, tapi juga merayakan nalar sehat yang tergerak lewat 'roller coaster' perasaan dari penampilan Iksan Skuter.
Comments (0)