Sejarah Ukulele, Si Kutu Loncat (part 2-habis)
by: Bobby Agung Prasetyo

di Indonesia sendiri, alat musik ukulele ini dibawa oleh armada portugis (1512) pimpinan alfonso d’alburqueque ke kepulauan maluku. bunyi alat musik dan nyanyian para pelaut ini dirasa aneh oleh para pribumi, karena mereka terbiasa dengan bunyi pentatonic. mereka berusaha untuk menirukannya, tetapi terbentur suatu kenyataan bahwa cengkok serta gaya musik tradisional sangat mempengaruhi penyajian musik para pribumi itu. Inilah yang kemudian menjadi embrio musik keroncong.
bagi bangsa Indonesia, nama itu ada maksud dan ada tujuannya. alat musik gong disebut sebagai gong karena kalau dipukul menghasilkan bunyi “gong”. dinamakan kenong, karena kalau dipukul akan berbunyi “nong”, atau kethuk yang jika dipukul akan berbunyi “thuk”. Untuk keroncong sendiri karena ada alat musik ukulele/ cuk/ krung yang kalau dibunyikan akan menghasilkan bunyi “crung”. Dalam musik keroncong, ukulele menjadi instrumen utama dengan suara “crong crong crong” sehingga musik asli Indonesia tersebut dikenal dengan nama keroncong sejak 1880.

Pada tahun berikutnya, ukulele dibawa ke Pulau Ambon, mampir ke Makassar, dan akhirnya menjadi alat utama musik keroncong di Kampung Toegoe Cilincing, Jakarta Utara. Sehingga sampai kepada lagu yang diiringi alat musik tersebut, maka lagu itupun dinamakan lagu keroncong. demikianlah musik keroncong ini berkembang dari abad ke abad dan diterima sebagai musik indonesia dengan ukelele sebagai salah satu alat musik pengiring.
*diolah dari berbagai sumber
foto: dokumen istimewa
Comments (0)