Selekta Pop: Cipta Nada Perjalanan Dua Dekade Club Eighties

Selekta Pop: Cipta Nada Perjalanan Dua Dekade Club Eighties

Penjualan album mereka paska Summer 83 memang terjun bebas, tetapi berbanding terbalik dengan tawaran manggung Club Eighties yang senantiasa ramai, bersanding bersama rekan-rekan satu kampus dari IKJ, yang terdiri dari Naif, The Adams, Goodnight Electric, dan The Upstairs serta segenap band-band indie lainnya. Tahun-tahun tersebut memang menjadi penanda bangkitnya skena musik arus samping baik dari Jakarta juga Bandung, lalu merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia. Lantas, apa yang membuat Club Eighties menarik?

“Kita minim skill semua. Cuma kegoblok-goblokan itu kita nggak terlalu paksain jadi jago. Lima orang goblok dikumpulin jadi satu, belum tentu jadi goblok. Jangan sampai kekurangan itu menjadikan sebuah hambatan. Justru lu harus mengisi kekurangan lu dengan sesuatu yang lain. Dengan disupport sama sesuatu yang kurang lagi,” terang Lembu yang pernah menjadi desainer kop surat KPU Pemilu di Indonesia.

80 Kembali menjadi album kelima dari mereka sekaligus sebagai album terakhir yang dirilis pada 13 Desember 2009. Album ini pula menandakan perpisahan dari Vincent dan Desta dalam Club Eighties. Kedua personel ini memutuskan untuk fokus berkarir sebagai bintang film, sinetron dan juga sebagai komedian sekaligus pembawa acara di salah satu TV swasta di Indonesia. Kadang-kadang mereka masih bermusik, Vincent sesekali terlihat membantu Teenage Death Star cabang Jakarta Raya. Vincent dan Desta juga tercatat pernah tergabung dalam kuartet The Cash, bersama Ringgo Agus Rahman dan Tora Sudiro.

1 Oktober lalu, Vincent dan Desta terlihat ikut bersuka ria merayakan ulang tahun Young Offender (YO) yang ke-30 di salah satu kafe di Jakarta. Perlu diingat, kalau Cliff, Desta, dan Vincent pernah bergabung dengan komunitas subkultur punk pertama yang ada di Indonesia ini. YO sangat berjasa dalam membawa pengaruh sub-budaya beserta jenis-jenis aliran musik ajaib lainnya (gelaran acara legendaris YO bernama The Black Hole) yang masih turunan dari akar rumput punk dan menjangkiti sebagian besar remaja saat itu. Indonesia medio 1990-an, diwakili remaja di Bandung dan Jakarta sedang demam musik alternatif, termasuk menginspirasi para personel Club Eighties di awal masa karir bermusiknya, bahkan jauh sebelum terbentuk Club Eighties yang sebenarnya tidak total 80-an tetapi produk musik era 1990-an.

BACA JUGA - Sepuluh Tahun dari Rilisan Terakhir, Club Eighties Kembali dengan "Cahaya"

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner