Sentuhan Top Notch 80’s Pop di Era Millenial Ala Widi Mulya

Sentuhan Top Notch 80’s Pop di Era Millenial Ala Widi Mulya

Jika ibaratnya lagu ‘Akad’ (Payung Teduh) adalah sosok seorang pria matang, maka simbol wanita anggun terbaik untuk mendampinginya adalah lagu ‘Wahai Kau Tuan’.

Widi Mulia (penyanyi; eks personil ABThree – sekarang personil Be3) memiliki cara kreatif nan estetis kala merayakan anniversary pernikahannya bersama aktor Dwi Sasono, memasuki satu dekade. Lewat kerjasama dengan komposer muda Nino 'RAN', Lale dan Hilman 'Maliq & D'Essentials', terciptalah sebuah single berjudul ‘Wahai Kau Tuan’. Lagu tersebut diberikan kepada Dwi tepat di hari perayaan 10 tahun pernikahannya dengan Widi.

Jika mendapat ‘gaung’ yang tepat, lagu satu ini sebetulnya berpotensi menjadi hits. Kenapa? Jawaban analogisnya begini. Jika dalam satu hari, saya berkesempatan menjadi seorang Is (vokalis Payung Teduh), maka (subjektifnya) dalam 24 jam itu saya akan mengajak lagu ‘Wahai Kau Tuan’ ini ini duduk satu singgasana dengan lagu ‘Akad’. Ya, ‘arwah’ lagu ini terasa ‘serasi’ untuk dipasangkan dengan hits Payung Teduh.

Tengoklah cengkok vokal khas milik mojang Sunda kelahiran 29 April 1979 ini. Ada kelas tersendiri. Klasik, tapi bukan dalam arti kuno. Lagam-lagamnya konservatif, tanpa bermaksud mengartikannya konvensional. Sederhananya, ‘Wahai Kau Tuan’ mengingatkan belantika musik Indonesia hari ini, pada era-era kejayaan Alm. Chrisye dan Titiek Puspa – hanya saja balutan sound dan warna lagu lebih bernuansa studio modern.

Agaknya, asumsi demikian tidaklah aneh, mengingat Widi merupakan salah satu female singer Indonesia yang sejak dulu kualitas vokalnya memang sudah berada di level internasional. Sejak kecil Widi sering ikut lomba menyanyi; puncaknya kala memenangkan kontes Asia Bagus Monthly Championship di Singapura pada 1993.

Di samping aspek musikalitas, aspek diksi pada singel ini juga terasa ‘aduhay’. Kita akan menemukan gaya kalimat yang sejenis dengan lirik-liriknya White Shoes and the Couples Company. “Asmara membara / debar deru di dada / semenjak berjumpa. Wahai kau tuan / kau widuri permata di dalam jiwa / Serasa dibuai mahligai nirwana.”

Ingin rasanya, saya menasbihkan lagu ini sebagai oleh-oleh nostalgia untuk kualitas musik Indonesia hari ini – jika kalian turut mengamini, tentunya.

Sumber foto: Dokumentasi Happy Salma

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner