Seribu Pikiran Kecil Tentang Showcase The Sugar Spun
Foto : Rafli F
Kesalahan, kegundahan, hingga kemudian menemukan cahaya terang, menjadi seribu cara The Sugar Spun untuk terus hidup. Akan ada seribu pikiran kecil lainnya yang kemudian melahirkan karya-karya besar dari The Sugar Spun
Memutar waktu ke tahun 1997 saat Dewa 19 merilis single berjudul “Kamulah Satu-Satunya”, yang ditulis Ahmad Dhani dan Erwin Prasetya. Single itu kemudian menjadi hits bersamaan dengan lagu-lagu Dewa 19 lainnya di album Pandawa Lima. Uniknya, lagu tersebut ternyata menyimpan rahasia yang unik dan lucu, di mana celetukan Ari yang berbunyi “Cek Dhan” terekam dalam lagu dan tidak dihapus, meskipun lagu tersebut sudah melalui tahapan mixing dan mastering.
“Ketika lagu udah selesai, gue ngomong 'Cek Dhan', maksud gue itu dicek yuk vokalnya, Dhani yang operatorin saat itu. Ternyata 'Cek Dhan' itu terlupakan, sampai ketika mastering, loh kok masih ada ini kalimatnya. Tidak terhapus. Terus kita dengerin lagi kok ketukannya pas, gue ngomongnya juga nggak fals, yaudah biarin aja deh,” ujar Ari Lasso, dilansir dari kanal Youtube Gofar Hilman.
Beranjak seperempat abad paska Ari Lasso tidak sengaja melontarkan celetukan ‘Cek Dhan’ tersebut, waktu kemudian mempersilakan saya untuk menghadiri ‘hajatannya’ The Sugar Spun bertajuk “A Thousand Tiny Thoughts Showcase” yang digelar di Courtyard by Marriot, Dago, Bandung. Tentunya menyenangkan menghadiri acara musik, terlebih karena band ini punya tempat istimewa di telinga saya, dan bahkan DCDC, hingga beberapa lagu yang mereka rilis langganan menghuni DCDC Playlist Of The Week dan DCDC Chart.
Notasi lagu yang catchy, musik yang asik, serta olah produksi rekaman yang baik, membuat nama band ini sepertinya tidak susah untuk muncul ke permukaan. Satu lagi yang perlu dibuktikan, yakni penampilan mereka di atas panggung. Itu satu-satunya yang belum pernah saya lihat. Apalah artinya lagu dengan produksi rekaman yang baik jika tidak ditunjang dengan penampilan panggung yang ciamik.
Minggu sore, sekitar pukul lima saya sudah di venue acara, tapi ternyata acaranya belum mulai. Sesuai perkiraan karena meski di poster acara tertulis mulai pukul lima, hal itu agak riskan karena berdekatan dengan jadwal shalat Maghrib dan Isya. Bisa bahaya kalau sampai tancap gas pada jam mendekati waktu adzan. Bisa tambah meyakinkan orang jika musik itu haram. Padahal kan sebenarnya musik haram kalau disajikan dengan jelek. Begitu kata Soleh Solihun. Untungnya, The Sugar Spun dan dua band pembuka showcase mereka malam itu, White Chorus dan Dream Coterie masuk kategori band-band bagus lah, meskipun ketiganya belum pernah saya lihat aksi panggungnya. Maka dari itu inilah waktu yang pas.
Sekira pukul 7 lebih 42 menit acara dibuka oleh penampilan White Chorus. Kenapa saya hafal jamnya? Masih tercatat dengan baik di history chat whatsapp ketika saya mengabari istri kalau acaranya sudah mulai. Nah saat penampilan White Chorus inilah obrolan Ari Lasso dengan Gofar di atas kembali melekat di ingatan saya, terlebih ketika Emir (salah satu personil White Chorus) kerap melontarkan candaan di atas panggung, bahkan pada salah satu lagu dia lupa bagan lagunya.
White Chorus
Sebuah kesalahan yang anehnya terasa relevan dengan kalimat ‘cek dhan’ nya mas Ari di atas. Masih selaras dan tidak menghilangkan keseruan acara. Semua bersenang-senang dengan ‘ketidaksempurnaan’ para penampil. Entah itu perkara sound, bagan lagu, lighting, atau printilan lainnya, yang masih bisa dimaklum oleh orang-orang berzodiak Aquarius seperti saya. Kecuali mungkin bagi mereka yang berzodiak Virgo, yang terkenal sebagai zodiak perfeksionis. “Setiap kali segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana, mereka akan merasa tidak tenang dan menuntut agar semuanya sempurna. Virgo umumnya lebih memilih untuk fokus pada detail”, begitu katanya.
Entahlah, saya suka dengan vibe yang disajikan di showcase tersebut. Seperti misalnya saat Emir menyebut drummernya seseorang yang ganteng tapi tidak jago, hingga kemudian diganti oleh Gilang/Gildhaf dari The Sugar Spun, yang ternyata lebih jago (meskipun tidak begitu ganteng, hahaha peace). Padahal di The Sugar Spun Gildhaf tidak bermain drum, tapi ternyata mainnya enak. Acara yang dibuat dengan santai hingga bisa berganti drummer di tengah set lagu sih sepertinya memang tidak diperuntukan untuk sesuatu yang perfect dan pretensius. Selama irama drum mampu menghentak lantai dansa dan selama penonton menyambut dengan fun, rasanya semuanya baik-baik saja.
Benar saja, band berikutnya, Dream Coterie juga menyajikan musik dengan irama dancey yang asik. Beberapa kali suara gitar dan vokal yang kurang terdengar tapi toh nyatanya masih sanggup mengajak penonton berdansa-dansi. Jujur, saya awam dengan band ini, tapi perkenalan saya dengan mereka pada malam itu jadi sesuatu yang berkesan. “siapa tuh cewek, cantik juga”. Kurang lebih jika digambarkan dalam sebuah kalimat seperti itu lah.
Dream Coterie
Selesai penampilan White Chorus dan Dream Coterie tibalah saatnya The Sugar Spun tampil di atas panggung. Saya lupa persisnya setlist mereka malam itu, tapi yang saya ingat ada beberapa lagu yang sangat mencuri perhatian saya. Yang pertama, saat mereka membawakan lagu “Leave the Womb” yang melibatkan nama Sbplusix sebagai kolaborator. Kehadiran Sbplusix membawa adrenalin tersendiri bagi lagu ini hingga hal tersebut berbanding lurus dengan penampilan The Sugar Spun yang aktraktif. Grafiknya bisa terlihat dari cara sang vokalis, Fathir berpakaian. Dari mulai sebelum tampil yang memakai jaket, lalu melepas jaket dan menyisakan kaos di lagu-lagu awal The Sugar Spun tampil, sampai akhirnya Fathir membuka kaosnya. Grafiknya terus menanjak dan menunjukan energi yang berlebih dari trio Fathir Dzaki, Rashief Muhammad, dan Gilang Dhafir ini.
Rashief Muhammad (The Sugar Spun)
Dua lagu lainnya yang menarik perhatian tentu saja lagu “Sugarsnap” dan “War”. Dua lagu yang menjadi gerbang bagi saya mengenal The Sugar Spun. Sampai akhirya kekeuh memasukan mereka di daftar Playlist Of The Week, DCDC Chart, dan bahkan terpilih sebagai DCDC Rocka Rookie untuk bulan Oktober 2021. Malam itu dua lagu tersebut sukses membuat koor masal dari penonton yang hadir. Mau bagaimana lagi, lagu dengan notasi dan isian musik yang asik ini rasanya sayang jika disikapi dengan biasa saja. Maka sebagai bentuk apresiasi, penonton malam itu bernyanyi, sebagai bagian dari ‘ruh’ acara tersebut.
The Sugar Spun
Selesai acara, lagi-lagi celetukan ‘Cek Dhan’ dari mas Ari Lasso kembali terngiang hingga kemudian saya hubungkan dengan permintaan maaf Gildhaf soal proyektor yang mati, jam acara yang dipangkas karena masalah perizinan, atau pun hal-hal yang menurutnya menjadi sebuah ‘kesalahan teknis’. Namun seperti cerita mas Ari Lasso di atas, sepertinya ‘kesalahan-kesalahan’ tersebut memang menjadi bagian yang sebenarnya tidak perlu dihapus, seperti halnya seribu pikiran kecil yang ada di kepala mereka. Biarkan saja semua kesalahan, kegundahan, kemarahan, hingga kemudian menemukan cahaya terang, menjadi seribu cara The Sugar Spun untuk terus hidup. Akan ada seribu pikiran kecil lainnya yang kemudian melahirkan karya-karya yang besar dari The Sugar Spun. Much love, Cheers.
Comments (0)