Shoegaze dan Postrock, Dua Identitas Berbeda
Kedua genre turunan dari alternative rock ini kerap mengalami miskonsepsi di skena lokal. Terkesan campur aduk, dan terjadi labelisasi sekenanya tanpa memahami konteksnya. Shoegaze dan post rock tak lain dua entitas yang berbeda sama sekali, meski sama-sama turunan DNA dari alternative rock. Satu Rahim satu ibu, namun lahir di waktu yang berbeda.
Sebuah posting di wastedrockers.com, berhasil memancing atensi saya. Judulnya Grunge Gods Live II, sebuah acara grunge di Kemang yang direview oleh Dede. Artikel bercerita tentang tema acara penghormatan terhadap Nirvana, Alice in Chain, hingga Pearl Jam, dengan line up band-band lawas plus beberapa selebritis musisi. Serunya, Dede mengkritik pedas, acara tersebut tak lebih sekadar kumpul-kumpul orang-orang yang hanya mendengarkan band-band mainstream saja, tapi tak kenal para bandit sesungguhnya dari Grunge, seperti Bikini Kills ataupun Blood Circus.
Saking pedasnya, komentar tajam mengalir di postingan tersebut. Mulai dari yang emosional hingga berkepala dingin. Dede sebenarnya gelisah saja atas minimnya apresiasi dan keingin tahuan skena lokal terhadap musik mereka. Terkesan subyektif dan bicara selera musik. Namun jika sekadar bicara selera saja tanpa memahami esensi dan sejarah dari apa yang kita nikmati selama ini, malah terkesan banal dan kering.
Kegelisahan ini sempat dialami beberapa rekan tentang skena shoegazing lokal, sekitar tiga tahun lalu. Ketika itu, banyak band-band bernuansa delay dan reverb, langsung dianggap shoegaze. Tema galau dan musik bunuh diri, menjadi labelisasi shoegaze. Postrock itu shoegaze, dan sebaliknya. Begitu sumir dan sekenanya.
Sebuah artikel dari allmusic.com, terposting di blog ini dan menjelaskan secara ringkas dan informatif tentang shoegaze sebagai genre. Wikipedia pun juga memiliki lembar laman yang membahas tentang shoegaze. Allmusic.com bahkan merilis rekomendasi album-album shoegaze dan para artisnya. Sebenarnya ada segudang informasi yang bisa ditemukan di dunia maya tentang shoegaze itu sendiri.
Campur aduknya alias miskonsepsi shoegaze tak muncul tiba-tiba. Pesona Sigur Ros yang semakin merebak pada pertengahan 2000-an, bisa menjadi contoh sederhana. Kontur musik Sigur Ros yang ambient, berbalut delay plus frekuensi tak putus dari e-bow memang mirip dengan Slowdive yang bercorak sama. Gelombang band-band bertipikal sama seperti Sigur Ros, seperti EITS, Hammock, Mogwai dan lainnya menjadi sensasi mengasyikan bagi semua orang.

Post-rock group Sigur Ros performs .
Apa yang dilakukan Sigur Ros, dan band postrock lainnya dengan elemen ambient dan meruang ini merebak pada akhir 1990-an dan 2000-an. Komposisi musik postrock bisa lebih dari lima menit, seperti sebuah plot sebuah kisah yang bermomentum. Allmusic.com menyitir postrock sebagai genre eksperimental, yang lebih fokus kepada racikan tekstur dan sound ketimbang struktur dan hook melodik. Postrock sendiri dirintis Talk-Talk dan Slint sejak 1991 dengan meracik jazz, ambient hingga chamber pop, berbeda dengan postrock saat ini yang dikritik allmusic.com tak berkembang dinamis dan dan progresif seperti dekade 1990-an.
Shoegaze sendiri sungguh jauh berbeda. Istilahnya muncul gara-gara labelisasi jurnalis tabloid musik di Inggris di akhir 1989-an yang menyaksikan munculnya gerombolan band-band yang lebih mengedepankan tsunami kebisingan dari gitar dan agak menenggelamkan vokal penyanyinya. Struktur musik mereka lebih simpel sebagai sub genre alternative rock. My Bloody Valentine, Moose, Adorable, Kitnchens Of Distinction, Slowdive, hingga Ride menjadi profil utama dari musik shoegaze. To Be Contigaze....

Shoegaze's pioneer, My Bloody Valentine performs. Circa 1991
-Part 1-
Disadur dari : http://indonesianshoegazer.blogspot.com/search?updated-max=2011-09-11T07:24:00-07:00&max-results=10&start=20&by-date=false
Postingan : Rabu, 17 Agustus 2011
Foto : http://gearwhore.tumblr.com http://noisey.vice.com http://www.stereogum.com
Comments (0)