Shoegaze, Suka Cita Kesepian "I"
Musik mencerminkan jiwa seseorang. seperti seorang penyair yang menafsirkan gejolak batinnya lewat untaian kata-kata, musik muncul sebagai rekaman atas apa yang sedang dirasakan oleh pembuatnya, dalam hal ini pemusik. seperti halnya genre musik yang lain, shoegaze pun demikian. secara etimologis, shoegaze berarti melihat sepatu. hal ini disebabkan, saat orang-orang yang memainkan aliran musik ini, mereka menunduk dan seperti sedang melihat ujung sepatu mereka sendiri.
Shoegaze menawarkan sebuah ruang untuk pendengarnya merayakan kesepiannya masing-masing. karakter musik yang penuh dengan distorsi untuk menggambarkan jiwa yang bergejolak dan lantunan vokal yang biasanya datar dan terkadang menggunakan suara palsu (a.k.a falset) ditambah gebukan drum yang berderap-derap semacam degup jantung, yang selalu saja mengejar-ngejar usia kita. seperti penggambaran jiwa yang sebenarnya ingin berteriak-teriak namun badan tak mampu/mau mengabulkannya.
Shoegaze sangat dekat dengan aliran musik semacam Space rock, krautrock, ambient rock/pop, psychedelic rock, raga rock, psychedelic pop, dream pop, post-punk, noise pop, dan yang kekinian adalah post-rock. Aliran-aliran itulah yang mempengaruhi warna musik shoegaze. Kedekatan warna musik diatas dengan shoegaze terlihat dalam intensitas penggunaan distorsi pada setiap lagunya. To Be Contigaze...
Comments (0)