Sister City Music?
Kita mungkin seringkali mendengar istilah Sister City. Sister City adalah konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antarpenduduk (wikipedia). Sister City ini lebih mengedepankan persamaan keadaan demografi dan masalah yang dihadapi. Biasanya hubungan kedua kota ini bekerjasama di bidang perdagangan, budaya dan pendidikan.
Tapi.. Mungkinkah konsep Sister City ini bisa dilakukan oleh para seniman musik (musisi)?. Jawabannya adalah : Kenapa tidak? Musik merupakan sebuah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapapun dibelahan dunia ini. Faktor bahasa tidak menjadi sebuah halangan dikalangan para pecinta musik. Hal ini bisa kita lihat dari mulai banyaknya musisi-musisi Indonesia yang diundang oleh berbagai macam festival di luar negeri. Ini menunjukkan bahwa para pecinta musik tidak mementingkan faktor bahasa dari mana si musisi itu berasal. Mereka cenderung lebih menikmati musiknya itu sendiri.
Konsep Sister City Musik ini sebenarnya bisa diambil melalui seberapa banyak musisi di sebuah kota yang sudah banyak mencicipi konser diluar negeri. Atau mungkin sebuah kota yang "dianggap" sebagai barometer perkembangan musik disebuah negara dengan kota lain yang dianggap mewakili hal yang sama. Keuntungan yang dapat kita peroleh adalah memungkinkan kita dapat mengetahui musik khas dari daerah tertentu di negara lain. Atau mungkin yang lebih "ekstrim" adalah pertukaran musisi untuk mengisi sebuah pagelaran besar di masing-masing kota tersebut.
Jadi tidak ada yang tidak mungkin untuk semua mimpi itu terwujud. Atau diantara para pejabat pemerintahan kota memang sudah ada yang mulai melirik kesempatan ini dan sedang berusaha mewujudkannya.
Comments (0)