Song Review : Sebuah Upper-Cut Berjudul “Derau Dan Kesalahan”

Song Review : Sebuah Upper-Cut Berjudul “Derau Dan Kesalahan”

Meski album Rasuk sudah nyaris berusia satu dekade, kharisma lagu nomor 9 ini tampaknya masih sulit disaingi kebanyakan musisi folk dan post-rock lokal – hingga kini.

Secara keseluruhan, debut band The Trees and The Wild (TTATW) ini ditanggapi sebagai terobosan pada zamannya. Album perdana Rasuk (2009) menjadi salah satu bukti kuat, bahwa musisi indie bisa membuat musik yang indah, kaya, bahkan megah. Album ini nyaris menjadi ‘paket kumplit’, bila saja tak banyak beredar kritik perihal cara bernyanyi Remedy Waloni yang terdengar mirip John Mayer – atau sound system panggung yang terlampau ‘kering’ ketimbang sound versi rekaman.

Terlepas dari itu, baik secara kemasan aksi panggung maupun skill komposisi musik, banyak yang sepakat bahwa karya ini merupakan simbol ‘pukulan’ upper-cut, yang telak mendarat di dagu permusikan Indonesia saat itu. Betapa tidak, menjelang dekade 2010-an, aspek kualitas pada belantika musik nasional sedang di bawah penjajahan ‘estetika’ berbentuk keseragaman konsep false-Malay pop-band. Hal ini didukung pula oleh semua channel TV swasta yang serempak mengorbitkan band-band sejenis setiap pagi hari – dalihnya sih, demi mengisi pasar musik nasional yang sempat mengalami ‘status-quo’ semenjak era 90’an berakhir.

Saat gap antara major label versus indie lagi senjang-senjangnya, muncul aneka kekuatan baru yang mampu menghipnotis banyak pengamat musik. Mulailah, kehebatan musisi indie menemukan lingkup pendengar lebih luas. Dari sekian nama calon legenda indie saat itu, The Trees and The Wild adalah satu nama yang bagi saya punya jasa. Mereka memperkuat resistensi kaum musisi indie; khususnya yang sedari dulu sudah quality-minded. Dalam albumnya, karya repertoar mereka terasa sangat misterius. Meski akhirnya mengantarkan kita ke dalam atmosfir (chamber) rock yang elegan.

Sebelum absen bertahun-tahun lamanya, The Trees and The Wild adalah salah satu band yang paling dinanti-nanti di tiap panggung musik indie atas kualitas dan karakter musiknya. Banyak yang langsung jatuh cinta dengan lagu "Derau dan Kesalahan", termasuk saya. Potongan lirik dalam reffrain lagu ini sempat mewadahi ribuan anak indie Indonesia, untuk sejenak berteriak-teriak bersama kawan-kawan sesama penggila gigs. Fenomena di sepanjang 2009-2010 yang terasa mulai antik saat ini.

Lagu “Derau dan Kesalahan” diisi tiga gitar sekaligus (2 gitar akustik dan satu elektrik). Makna musiknya seakan mengilustrasikan gerakan matahari yang sedang menyongsong waktu fajar. Melenggang anggun dari dinginnya waktu-waktu sepertiga malam. Semakin pagi, semakin kuat energi yang memancar; menyinari kegelisahan kita yang kesulitan tidur sejak malam. Diamond-part yang ditunggu-tunggu di lagu ini, adalah detik di mana energi musik melonjak drastis. Nuansa tenang berisi petikan senar nilon gitar akustik, mendadak dikagetkan oleh raungan overdrive yang segar nan sangat enerjetik. Segera menyusul double-percussion (drum set dan polka-drum/floor-tom) dalam hentakan stakto – mengiringi raungan gitar dan repetisi jeritan vocal-chants, hingga nuansa musik terasa sangat tribe-rock.

Di pertengahan lagu, atmosfir klimaks dihiasi oleh selingan fluktuasi yang tak kalah indah. TTATW menyuguhkan poly-rhytmic part. Di sini, gitar akustik, drum kick, dan dentingan glockenspiel, masing-masing berjingkrak dengan birama yang berbeda-beda. Gitar memainkan birama 9/8 dengan accoutic power-chord, lalu polka-drums memainkan birama 3/4. Sedangkan glocken memberi aksen manis di setiap bar akan berakhir. Terjadilah persilangan harmoni, yang dikandung persilangan aliran-aliran musik.

Dari segi ketukan, harusnya bagian poli-ritmik ini terdengar rumit. Namun beruntungnya, Charita Utamy (backing vocals) punya angelic-voice; Iga Massardi (sekarang gitaris Barasuara) mendesain sound yang sangat bold namun tidak noisy; ditambah skala nada gitar akustik Andra Budi Kurniawan terdengar etnik di telinga. Kesimpulannya, “Derau dan Kesalahan” adalah moodbooster. Penghangat langit malam yang kedinginan, atau penyubur jiwa di daratan terik. Dimensi folk dan atmosfir shoegaze yang ditawarkan lagu ini tak bisa semena-menda ditiru band kemaren sore. Sejak tahu lagu ini, menu post-rock harian saya bertambah, sekaligus melengkapi kredo baru banyak musisi indie dalam ber-shoegaze.

Semangat yang dikandung lagu ini, akhirnya sukses menularkan semangat yang sama pada pendengarnya. Mereka ingin lagu-lagu sehebat ini hadir lagi di karya-karya TTATW berikutnya. Bahkan hingga tahun 2012, saya sempat mendapati fakta bahwa “Derau Dan Kesalahan” masih jadi moodbooster bagi beberapa penikmat musik indie di playlist-nya masing-masing. Rasanya bersyukur, pernah beberapa kali menyaksikan TTATW membawakan lagu ini secara live – sebuah momen yang akan jarang terulang, sejak salah satu motornya, Iga Massardi, keluar dari band tak lama sejak TTATW manggung di Eropa.

Sumber foto : augenweide-dawrnaz Deviant Art

BACA JUGA - Short Journey 'The Trees and The Wild'

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner