Songs Review: KALA - “Ia Adu En I” & “Barra Edinnazu”

Songs Review: KALA - “Ia Adu En I” & “Barra Edinnazu”

Ini bukan musik untuk para pencari ketenangan. Ini musik untuk para pemuja kebisingan.

★ 3/5 (K)

★ 2/5 (A)

Ada yang terbaru dari Damag (DAniel MArdhany G). Katanya, setelah menjadi pendengar dan penggemar musik black metal pasif, akhirnya ia benar-benar terjun kedalamnya. Proyek musik itu dinamai KALA, dengan Arbja sebagai partnernya. Awal tahun 2018, KALA berencana merilis full-length album bertajuk Chapter I: Hymns of Dissonant Soul. Damag memberi bocoran untuk album ini, di mana nantinya KALA menyertakan delapan buah lagu dengan total durasi 39 menit.

Delapan lagu yang akan ada dalam album perdana KALA adalah “ALAL”, “Barra Edinazzu”, “Ia Adu En I”, “Ekurbad”, “Gishbar Ba Gibbil Ba”, “Lalassu Kashshaptu”, “Mashu”, dan “ALAK”. Saya kebingungan, sepersekian detik setelah membaca delapan judul lagu ini. Jangankan untuk dibaca, ditulis pun sulit. Tentang bahasa yang dipilih, Damag lalu menjelaskan bahwa ia menggunakan bahasa Sumeria.

“Dari sekian juta bahasa yang ada di dunia, kenapa lu milih bahasa Sumeria?”

“Karena gue mentok bikin lirik, hahaha…”

Sialan memang Damag.

Tapi kemudian, ia bercerita bahwa itu semua berawal saat ia menemukan kembali buku “The Necronomicon” (H.P. Lovecraft). Lalu, Damag berpikir bahwa musik yang KALA usung sepertinya cocok dengan bahasa Sumeria, dan menurutnya black metal itu identik dengan bahasa dan dewa-dewa Sumeria. “Akhirnya, gue pilih (bahasa Sumeria). Jadi, semacam musikalisasi mantra H.P. Lovecraft yang gue ‘colong’ dari buku "The Necronomicon" yang sempet gue pakai pas gue skripsi dulu.”

Ide kreatif Damag terbilang pintar. Pemilihan bahasa yang tidak lumrah ditemui ini memiliki daya tarik tersendiri. Hari ini, jutaan musik dan ekplorasinya sudah mudah sekali ditemui. Jika tidak ada diferensiasi, maka apa yang bisa kita tandai? Apa yang bisa kita perhatikan? Apa yang akan menjadi menarik? Jadi, apa yang dilakukan KALA (dalam cakupan kata) bisa dikatakan sebagai salah satu “misi penyelamatan” atas stagnansi konten musik. Dikutip dari kata-kata Roby Rusdiana yang sempat saya temui beberapa waktu lalu, “sesuatu yang sulit akan menjadi sesuatu yang memorable”, dan bisa jadi inilah yang dilakukan KALA, sadar atau tidak. Pada akhirnya, menjadi berbeda adalah satu keharusan.

Damag lalu mengirimi saya beberapa materi yang sudah rampung via layanan music streaming Soundcloud, yaitu “Ia Adu En I”dan “Barra Edinnazu”. Sepertinya, tantangan yang akan saya hadapi berbanding lurus dengan kesan pertama ketika membaca judul-judulnya. Semoga saja, agar materi milik KALA tidak menjadi anti-klimaks.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner