Suka Duka Para Musisi Meneruskan Bisnis Keluarga

Suka Duka Para Musisi Meneruskan Bisnis Keluarga

Dengan bidang usaha yang berbeda-beda mereka mengaku cukup enjoy menjalani ‘bisnis warisan’ ini. Namun, meski  ‘bisnis warisan’ tidak berarti mereka berleha-leha dalam menjalankannya

Selain artikel, video, magazine, radio, dan masih banyak lagi menu di website DCDC ini, ada satu ‘menu’ yang juga menarik untuk disimak oleh coklatfriends semua. Menu itu adalah DCDC D’Podcast. Berbeda dengan menu-menu lainnya di DCDC, D’Podcast menyuguhkan perspectif lain dari musisi. Tidak hanya melulu bicara musik, tapi hal lain di luar itu, seperti misalnya bisnis atau hobi yang mereka jalani.

Dari sekian banyak musisi yang menjadi narasumber di DCDC D’Podcast beberapa diantaranya ada yang menjalani bisnis karena dilatari oleh keluarga. Bahasa sederhananya sih menjalankan bisnis keluarga. Tercatat ada nama-nama seperti Haddid Muhammad dari ‘The Highway’, Hariz Lasa ‘Troü’, hingga Billy ‘Inhell’. Ketiganya mengaku jika mereka menjalankan bisnis keluarga selain bermusik bersama bandnya masing-masing.

Dengan bidang usaha yang berbeda-beda mereka mengaku cukup enjoy menjalani ‘bisnis warisan’ ini. Namun, meski  ‘bisnis warisan’ tidak berarti mereka berleha-leha dalam menjalankannya. Ada waktu, tenaga, energi, dan pikiran yang mereka curahkan untuk terus menghidupkan bisnis keluarganya ini. Hariz Lasa ‘Troü’ misalnya. Dia mengaku jika pilihan sulit dari masa pandemi seperti saat ini adalah menghidupi karyawannya, meski dalam beberapa fase bisnisnya tidak mendapat income yang sepadan dengan itu.

Mengusung jenis bisnis oleh-oleh Haji, bisnis ini sudah turun temurun yang pertama kali dibangun oleh buyutnya pada tahun 1913 dengan nama toko oleh-oleh At Tamimi yang berlokasi di Cirebon. Memiliki omset yang cukup besar, bisnis ini pun akhirnya terus berkembang dan berjalan secara turun temurun. Pada tahun 2013 almarhum ayah Hariz jatuh sakit, hingga akhirnya toko oleh-oleh ini diurus oleh Hariz. Menggaris bawahi bisnisnya yang berhubungan erat dengan ibadah haji, hal ini dirasa cukup memberatkan bagi Hariz, pasalnya seperti kita tahu jika selama masa pandemi ini ibadah haji ke tanah suci dilarang pemerintah. Maka dari itu bisnis oleh-oleh haji miliknya sepi, karena tidak ada orang berhaji. Namun disisi lain Hariz tidak bisa begitu saja memberhentikan karyawannya. Bagaimana pun dia harus memutar otak untuk terus menghidupi karyawan dan bisnisnya.

Selain Hariz, ada juga Billy yang mengaku menjalani bisnis makanan kerupuk karena meneruskan usaha ayahnya. Billy yang sebelumnya bekerja sebagai kontraktor kemudian memilih pulang ke Bandung dan meneruskan usaha/bisnis makanan kerupuk. Dengan membawa merk dagang SHN sedikit demi sedikit Billy menjalani profesinya sebagai pengusaha kerupuk. Suka duka dia jalani sampai kemudian waktu sedikit tidak berpihak padanya ketika dia dihadapkan pada kenaikan dan kelangkaan minyak goreng. Tentu hal ini memberatkan karena minyak goreng merupakan elemen penting dalam bisnis kerupuk miliknya.

Namun Billy mengaku jika untungnya dia mempunyai banyak teman yang diakui olehnya ada saja yang membantu, seperti misalnya yang menyediakan minyak goreng atau hal-hal lainnya yang bisa menunjang bisnisnya. Hal unik lainnya dari bisnis kerupuk ini adalah ketika Billy dihadapkan pada sebuah situasi gerobak kerupuknya digondol maling, lengkap dengan kerupuk yang belum terjual.

“itu lucu pas salah satu pedagang kerupuk saya mampir buat cukur rambut. Nah pas sudah selesai dia melihat gerobak kerupuknya hilang. Aneh saja gitu ada maling gerobak kerupuk plus kerupuk-kerupuknya. Buat apa gitu? Dijual juga mungkin ga seberapa. Belum lagi, maling gerobak kan ribet. Mending maling helm motor saja”, ujar Billy seraya tertawa.

Lepas dari cerita-cerita di atas, bisnis bagi musisi (khususnya di Indonesia) mungkin akan selalu relevan, mengingat menjalani profesi jadi musisi nyatanya tidak selalu bisa diandalkan, meski pun banyak juga musisi yang hanya menggantungkan hidupnya pada profesi bermusiknya ini. Ya, semua berjalan dengan keyakinannya masing-masing. Ada yang memang nyaman dengan menjadi musisi saja, namun ada juga yang nyaman menjalani profesi sebagai musisi dan pengusaha.

BACA JUGA - Musisi dan Kopi

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner