The Indorock History - Kebanggaan Khas Indonesia

The Indorock History - Kebanggaan Khas Indonesia

by: Bobby Agung Prasetyo

Sebelum internet populer, mungkin kita takkan pernah tahu segala hal yang pernah eksis di masa lampau, namun kini terbenam. Semisal kisah Hackney bersaudara dalam grup band Death, perjalanan panjang Les Paul, dan bekennya The Tielman Brothers, pengusung genre Indorock yang banyak menginspirasi dunia. Sudah pernah mendengarkah sebelumnya, genre Indorock?

Indorock memang lahir dari subkultur imigran Belanda-Indonesia yang dicirikan oleh perpaduan antara musik Barat dan musik Indonesia. Musik Barat yang menjadi acuan band-band ini di masa awal kelahirannya di Indonesia adalah musik Hawai, rock ‘n roll generasi pertama, dan musik country Amerika yang saat itu bisa didengar lewat radio Amerika yang dipancarluaskan dari Filipina dan Australia. Sementara musik Indonesia yang dimaksud, selain lagu-lagu daerah, adalah musik keroncong, yang dicirikan oleh permainan gitar yang khas, minimal dua gitar yang seakan saling “bersahut-sahutan” mengisi melodi dan rhythm.

Dalam perkembangan keroncong di Indonesia, fungsi dua gitar ini dihasilkan dari suara “cuk” dan “cak”. Eksplorasi gitar, yang menjadi ciri penting genre Indorock (umumnya musisi Indorock bahkan memiliki tiga gitaris), memang merupakan suatu hal yang baru bagi publik Eropa, mereka pada masa itu lebih terbiasa mendengar musik ala orkestra dengan biola atau piano sebagai alat musik yang dominan.

Membicarakan Indorock sebagai genre musik yang muncul pasca migrasi besar-besaran orang Indonesia (dan blasterannya) ke Belanda pada tahun 1950an, sama dengan membicarakan konteks kepindahan itu sendiri dan pilihan “status kewarganegaraan” dari para ekspatriat yang mayoritas orang Maluku ini. Kepindahan para musisi ini jelas sangat terkait erat dengan kebijakan Orde Lama di bawah kepemimpinan presiden Soekarno yang anti-Barat.

Saat itu, segala yang berbau Amerika diberangus, termasuk pilihan mendengarkan atau menjadi musisi rock ‘n roll. Mereka tentu harus menentukan sikap terkait pilihan karir mereka; tetap membawakan musik sebagaimana mereka menginginkannya, walau harus berjuang lebih keras “di negeri orang”; atau harus berakhir di penjara, sebagaimana yang terjadi pada Koes Ploes pada awal tahun 1960an, meski tak sebrutal aksi panggung Andy Tielman dan saudara-saudaranya. Pada kasus The Tielman Brothers sendiri, keluarga mereka sebenarnya ditawarkan kesempatan emas tur keliling Indonesia dengan imbalan yang tidak kecil oleh Presiden Soekarno, jika mereka memilih menjadi warga negara Indonesia. Sebuah kesempatan emas untuk sang “anak emas”. Namun, tentu saja, ada persyaratan yang harus dipenuhi: mereka harus meninggalkan ke-rock ‘n roll-an mereka dan hanya membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia.

*diolah dari berbagai sumber

foto: istimewa

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner