The Sugar Spun dan Seribu Pikiran Kecil di Kepala
Dalam evolusi musik rock, wilayah musik ini mengalami berbagai periodisasi yang menghasilkan turunan beragam jenis musik baru yang distingtif. Hal-hal yang dapat diserap atau diterima oleh panca indera manusia. Teledor sedikit, kawin silang antara musik rock dengan unsur dan elemen modernitas menjadi bumbu yang terlalu kental, hingga terkadang menghasilkan anomali yang begitu kentara.
Secara tema dan garis besar, musik dari The Sugar Spun bisa saya sebut sebagai medium yang menarik, bercorak untuk pendengarnya, khususnya mereka yang mengalami hal serupa ; Isolasi mandiri. Tidak terlampau selebor, tidak menggebu-gebu. Harmoni antara bunyi, pesan dan narasi, setidaknya cukup padu mereka representasikan. Sayangnya, tidak disertakan lirik di siaran persnya. Dengan level keminggris saya yang lemah, saya jadi harus menerka-nerka arti dari syair berbahasa inggris yang mereka buat.
Padahal, saya termasuk yang girang ketika mendengarkan grup atau solois yang menyertakan lirik, supaya tahu maksud dan pesannya. Meski kadang pesan itu bisa tersurat atau tersirat. Secara implisit maupun eksplisit ditulis di barisan lirik.
Musikalitas mereka bisa disebut yang tersegar di antara banyak grup musik indie/alternative rock yang belakangan ini sedang dijejalkan ke telinga saya. Trio Fathir Dzaki, Rashief Muhammad, dan Gilang Dhafir termasuk yang paling mencuri hati. Mengusung gelombang baru yang mencakup banyak gaya. Berorientasi pop/rock dari akhir 1970-an dan 1980-an dibalut produksi tatanan suara mewah dan kekinian, bukan perkara mudah menyelundupkan ramuan formula yang terdiri dari komposisi musik sebegitu mulusnya. Sila hitung sendiri grup musik mana yang bisa melakukannya?
Sebagai penutup dari debut album perdana mereka, A Thousand Tiny Thoughts yang dilepas 15 Oktober lalu dibawah naungan Orange Cliff Records, single “Madhouse” bisa jadi klimaks yang dijanjikan dari grup asal Bandung ini.
Dua kata untuk The Sugar Spun; Brilian dan Terkonsep
Keutuhan cerita yang saling bertautan dari karya The Sugar Spun merekam kejadian demi kejadian pada masa transisi fase remaja menuju gerbang dewasa. Periode dimana hal-hal tidak terduga datang menyambangi. Merayakan kesunyian jiwa dengan mencipta. Menoleh ke belakang, The Sugar Spun mulai menebar pesonanya ketika melepas debut mini albumnya yang berjudul panjang seperti sebuah nama grup musik post rock; All The Tracks Based On My Feelings And This Is What It Looks Like, yang didaulat menutup akhir tahun 2019 dan menyambut 2020 dengan optimisme cerah. Tidak seperti Nostradamus, ramalan gagal total. Dua tahun berjalan, seluruh umat manusia harus merasakan masa-masa tergelapnya sebagai penghuni bumi.
Untuk diketahui, tidak berlebihan jika single-single mereka empat kali masuk Playlist of The Week dari DCDC, bahkan pada bulan Juni lalu, dua lagu mereka yang berjudul “War” dan “Ocean Tides” menjebol DCDC Chart berturut-turut setiap minggunya.
Beberapa single mereka yang lain seperti “Trapped in The Ice” hingga rilisan tunggal ganda “Sugar Snap” dan “Can’t You See Mama” jadi sajian menarik karena direkam dan dimainkan dengan kualitas produksi suara yang jempolan. Hasilnya cukup sahih. Kini, The Sugar Spun berada di barisan terdepan sebagai wakil dari kota yang pernah menyandang status ‘barometer musik Indonesia’ ini.
Comments (0)