The Sugar Spun dan Seribu Pikiran Kecil di Kepala
Lewat debut album perdana milik The Sugar Spun, 'A Thousand Tiny Thoughts' juga membuat kita menyadari, bahwa kita semua hanyalah manusia biasa yang terkadang (perlu) mengalami fase jatuh dan bangun dalam hidup
Malam hampir sempurna. Sebentar lagi dini hari. Dituntun The Sugar Spun sebagai gembala-nya. Baiklah. Lupakan perang, hati nurani yang meredup, pandemi yang memuakan, pembantaian etnis, tenaga kerja asing, pembabatan hutan, eksploitasi tambang, penyakit menular, jatuhnya asteroid, karpet merah oligarki, kekerasan dan pelecehan oleh aparat, atau perubahan iklim. Berikut ini hasil jungkir balik saya mendengarkan album A Thousand Tiny Thoughts milik The Sugar Spun yang berakhir cukup pelik. Kebuntuan di tengah proses merampungkan tulisan! Serangan panik. Ah sudahlah, setelah bangun dari setengah tidur, semoga esok lebih baik dari hari ini. Mungkin masih ada elegi yang menyertai, tapi cukup sesekali.
Saya amini kutipan seorang solois/penyanyi-penulis lagu akhir tahun 60-an yang kharismatik dan dipenuhi teka-teki (bahkan kritikus musik Bruce Eder menyebutnya sebagai musisi Yahudi kedua terbaik setelah Bob Dylan -dan mungkin Paul Simon-). Perpaduan puisi, fiksi, dan musik. Ia adalah sosok penyair dan novelis. Karyanya mengeksplorasi agama, politik, isolasi, depresi, seksualitas, kehilangan, kematian dan hubungan romantis. Saya teringat kutipan dari sosok tersebut - Leonard Cohen yang sangat menyentuh tentang kesehatan mental,“There is a crack in everything, that’s how the light gets in.”
Jadi, mari kita mulai saja kelanjutan bualan analisis saya selanjutnya, sambil menikmati perjalanan musikal dari debut album perdana The Sugar Spun. Sebuah seremoni tentang isolasi mandiri.
Comments (0)