This Is A Story... A Story About The Clouds
Dimulai dengan puisi dan dua gitar. Dilahirkan di bagian timur Ibukota. –The Clouds

Menjadi band Jam Session dengan nama “Miserables”, adalah halaman pertama perjalanan musik mereka. Seorang Aji Wiweko yang merupakan gitaris dari band hardcore lawas Empty Message, mengajak serta Agus Mardian dari Cambridge Revolt untuk membantu memetik gitar, juga dibantu Aris Widyawessa pada drum yang juga bergabung di Cambridge Revolt. Tak lama berselang Wiranata Agung Tyas eks-Subrooster ikut menekan bass, dan terakhir Rio Vanessa aka Echa yang seorang gitaris band Suck Of Society dipaksa menjadi keyboardist dalam “Miserables”.
Sebagai band cover version yang banyak memainkan repertoar indie pop macam The Smiths, Morrissey, The Cure, Lightning Seeds, James , Pulp, etc.
Sayangnya karena suatu kepentingan mendesak yang berhubungan dengan pekerjaan, Aris, Burhan dan Adam pun dengan sangat terpaksa harus keluar dari “Miserables” pada awal tahun

Hingga satu malam, di beranda kediaman rumah Aji, saat duo gitaris yang sedang dilanda kegalauan karena kepergian 3 rekannya mulai memetik dawai-dawai gitar ditemani oleh kehadiran Wiranata Agung Tyas (Sub Rooster) dan mulai memainkan instrumental yang menghanyutkan. Mereka pun mencoba mentransformasikan bait-bait lirih, bertajuk “Samar” - ke dalam suatu karya musikal kolektif - yang terispirasi dari kisah nyata tentang teman-teman dekat mereka, yang terjebak dalam perangkap halusinasi sesaat, namun berefek adiksi permanen, kisah perjalanan hidup yang pahit para “drugs-users”. Lagu ini menjadi titik awal kebangkitan mereka untuk terus bermusik.
Akhirnya, Aji dan Marr memutuskan untuk merekrut 4 orang teman lama di Cipinang Indie Scene untuk bergabung, yaitu: Wiranata Agung Tyas a.k.a Diaz (bass), Made Widya (gitaris band hardcore/oi skin “Married by Accident/MBA”. Mereka mendaulat Made untuk mengisi vokalis yang kosong), Rio Vanessa a.k.a Echa (ex.gitaris Suck Of Society untuk menjadi keyboardist) dan Ibam (drum). Mereka pun sepakat merubah nama “Miserables” menjadi “The Clouds” yang berarti awan, untuk lebih me-representasikan lirik-lirik puitis dan absurd yang terkadang membawa logika, akal sehat dan rasio mengawang-awang di alam imajinasi tanpa batas di dalam karya-karya mereka. Pada era formasi inilah tercipta lagu-lagu depresif tapi tidak berkesan cengeng, seperti: “Sisi Yang Hilang” (sebait lirik tentang perjalanan hidup yang abu-abu), ”Uncertainty” (tentang kebosanan terhadap rutinitas sehari-hari yang bisa mematikan cita rasa dan kreativitas), ”Prelude for Negative Minor“ (instrumental), ”Sepi” (deskripsi tentang kesendirian yang cukup representatif dan sering terjadi dalam diri setiap manusia), ”Garden of Eden” (sebuah khayalan tentang negeri antah-berantah yang penuh kedamaian, tidak seperti dunia ini yang sudah carut marut dan hancur oleh ulah tangan manusia), ”Silusi” (sebuah puisi tentang adiksi temporer terhadap suatu substansi natural pembangkit imajinasi alam bawah sadar karya Andri Mulyana a.k.a Cheppy –gitaris band beraliran British Pop dari Jakarta “Strange Ways” dan sekarang tergabung di dalam band Oi! bernama Ten Holes) dan sebuah alunan penuh optimisme dan egosentrisme yang pasti ada dalam diri kita, berapapun persentasenya berjudul “I Wanna Be My Self“.

Pada Januari 2004, The Clouds pun merekam 8 single tersebut di sebuah studio di bilangan Pulomas, Jakarta Timur. Setelah sering tampil di beberapa “gigs“ di Jakarta, lagi-lagi di tahun 2008, The Clouds kembali dilanda problema dengan keluarnya – lagi-lagi 3 orang personel, yaitu: Echa, Ibam dan Made, kali ini dengan alasan kesibukan dengan pekerjaan profesional mereka yang menyita waktu. Di tengah kevakuman yang cukup lama, lagi-lagi rekan lama mereka di Cipinang Indie Scene, Rizal Hands a.k.a Ijal (ex-drummer Forgotten Fear) pun datang mengisi posisi drummer dan Ahmad Fadholi a.k.a Dolly Plester sebagai vokalis, yang sebelumnya sempat jam-session dengan salah satu band punk rock ibukota, Overcast. Dari beberapa kali latihan, akhirnya disempurnakanlah single “For My Soulmate” (sebuah syair cinta tanpa kepalsuan dan adiksi akan naluri alami untuk memiliki seseorang yang istimewa - sebelumnya The Clouds berkolaborasi dengan Yodam Heaven). Namun pada tahun 2010, karena kesibukan solo-projectnya, Dolly terpaksa meninggalkan The Clouds yang kemudian digantikan oleh Ipang Bona Drag a.k.a Abu Haidar (The Firm).
Dari beberapa kali latihan, akhirnya disempurnakanlah single–single seperti: “Samar”, ”Sepi”, ”Guide Me To Your Door” (dorongan impulsif untuk menghapus catatan kelam masa lalu setelah sekian lama tersesat dalam kegamangan hidup) dan “Lelah Melangkah” (lagi-lagi bait depresif tentang seorang penyendiri yang mencoba keluar dari kegalauan). Dengan formasi inilah The Clouds pun semakin bertambah solid dan sering tampil lagi lagi di beberapa “gigs“ Indie-Alternative Music scene di Jakarta sampai saat ini.

Instrumentasi
Ipang aka Abu Haidar - Vocal
Aji Wiweko - Lead Guitar
Agus Marr Dian - Rhythm Guitar
Wiranata Agung Tyas - Bass
Andi ‘Aco’ Razak - drum
Diskografi
1. Lost in Jakarta [ep] - Launched on SoundCloud.com
2. Lost in Jakarta [ep] - Launched by The Clouds
3. Samar (single) - Released by Glory Record (Underground Label from Bangkok, Thailand)
4. Samar (single) - Compiled in a compilation CD by Kaiser Jeans (Fashion brand from Tangerang, Indonesia)
5. Samar (single) Compiled in a “POP IS DEAD #4" by MindBlasting (NetLabel)
6. Guide Me to Your Door - Released by Blue Records Label (Indie Label from Bandung, West Java, Indonesia)
Contact: Nia +6281315690555 | Sastro +6281384260202
Contact :
Facebook : https://www.facebook.com/thecloudsjakarta
MySpace : https://myspace.com/thecloudsjakarta
Twitter : https://twitter.com/theclouds_jkt
Last.Fm : http://www.last.fm/music/The+Clouds+Jakarta
Foto : The Clouds Docs.
Sumber : www.psychomedusa.tumblr.com/post/25365450533/free-download-the-clouds-singles
Comments (0)