Trip Hop Tidak Hanya Milik Bristol

Trip Hop Tidak Hanya Milik Bristol

Segalanya bermula pada 1998 ketika Yudhi Arfani, Dimas Anindityo dan Mulyadi Triharsono mengibarkan bendera Gooton yang lumayan solid di skena britpop seputaran Jakarta. Setelah sekian lama tanpa vokalis tetap, pada 2001 bertemulah mereka dengan Irene Yohanna. Sosok biduanita berkarakter suara khas ini ternyata sanggup menarik perhatian bukan hanya laki-laki, tapi juga seluruh publik muda. Benar, semua menyukai Irene, Everybody Loves Irene! Fakta menarik inilah yang mengilhami para personel band berkeputusan merombak nama band menjadi, ya itu tadi, EVERYBODY LOVES IRENE.

Pudarnya popularitas “pil gedek”, ‘ecstasy’ mulai merebaknya disko murung (dance noir), plus kehadiran Aulia Naratama makin mengukuhkan eksistensi kontingen asal Jakarta ini. Makin ke depan, riuh pengaruh artis macam Emiliana Torrini, Goldfrapp, Air, Mono, Sneaker Pimps, Portishead, Cocteau Twins hingga Bloc Party, serta cara penulisan lagu yang di luar kebiasaan, pekat membentuk arah berkesenian Everybody Loves Irene. Mendefinisikan mereka lebih lugas sebagai kelompok indie-pop eklektik dengan bumbu trip hop yang kuat.

Keunikan ini kemudian mendapat respons nasional yang baik seperti partisipasi mereka di soundtrack film “Gerbang 13″ juga serial televisi “Dunia Tanpa Koma (DTK)”. Sementara skala internasional di antaranya undangan main ke Baybeats International di Singapura pada 2007, ditambah ajakan kerjasama di album kompilasi terbitan Perancis dan Jepang. Pula rekognisi dari stasiun tv Channel [V]—yang notabene adalah kanal musik Asia terbesar—dengan mengikutsertakan mereka ke program “AMP Around Asia”.

Disadur dari : http://www.musikator.com/everybody-loves-irene/

Foto : dari eko hm blogspot 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner