TwoDecadesofAggression - Album Persembahan untuk Kesebelas Pahlawan Tragedi AACC
Album kedua Beside dinamai Eleven Heroes, sebagai bentuk penghargaan Beside kepada sebelas orang korban meninggal pada acara peluncuran album pertama, Against Ourselves.
Pasca perilisan album pertama Beside Against Ourselves yang diwarnai sebuah tragedi kelam bagi ranah musik bawah tanah di Bandung tahun 2008, band ini sempat berada di titik yang sulit. Dengan naik turunnya keadaan yang dialami Beside, ditambah beberapa media yang tidak sedikit menyudutkan posisi band ini dan skena musik lokal Bandung pada umumnya, dengan mengkambinghitamkan genre tertentu, yang dalam hal ini genre musik metal. Namun, keadaan ini terus dilawan mereka, dengan pembuktian berupa karya dan aktivitas dari panggung ke panggung yang Beside jalani, dengan totalitas, kapabilitas, dan mentalitas yang terus dipatri sematang mungkin.
Selain panggung-panggung dalam negeri yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, mereka sempat menjajal panggung di Singapura dan Malaysia pada tahun 2012 dan 2013. Aktivitas musik yang dijalani oleh Beside makin membentuk soliditas dalam tubuh band ini. Sampai pada tahun 2015, Beside mulai menyiapkan materi album keduanya yang berjudul Eleven Heroes.
Album ini dinamai Eleven Heroes sebagai bentuk penghargaan Beside kepada sebelas orang korban meninggal pada acara peluncuran album pertama Beside. Menurut Beside, kesebelas orang itu adalah pahlawan bagi mereka, dan skena musik Bandung pada umumnya. Karena, di balik sebuah tragedi kelam itu, skena musik Bandung akhirnya bisa berbenah diri dalam menyelenggarakan sebuah pertunjukan, agar Tragedi AACC tahun 2008 lalu tidak terulang kembali. Album Eleven Heroes ini dirampungkan oleh formasi baru Beside, yaitu Bebi (drum) yang memang ada sejak band ini berdiri, dan mengajak Agrog (vokal), Bokir (gitar), Izal (bass), dan Roy (gitar).
BACA JUGA - TwoDecadesofAggression - Mengenang Kembali Sabtu Kelabu, 9 Februari 2008
Ada cerita menarik ketika proses rekaman album kedua mereka, yang dilakukan di Studio Masterplan, Bandung. Bebi menuturkan bahwa ada semacam gojlokan bagi vokalis mereka, Agrog. Posisinya sebagai vokalis Beside memegang peranan penting, sehingga mentalnya harus kuat sebagai frontman dalam band. Agrog yang sebelumnya tergabung di band Luminous Hunter perlu menyesuaikan diri dengan rima bermusik Beside. Pada departemen lirik, di album Eleven Heroes ini Bebi meneruskan estafet yang sebelumnya dipegang oleh Owank di album Against Ourselves.
Bebi menuturkan, untuk urusan lirik lagu, dia membuat semacam cerita yang berkesinambungan antara lagu satu ke lagu lainnya. Sehingga, jika ditarik benang merahnya, semua lagu yang ada dalam album akan jadi sebuah cerita yang utuh. Konsep seperti itu sebelumnya juga diterapkan di album pertama mereka. Oleh karena itu, tidak adil rasanya jika menilai lagu-lagu Beside hanya dari sekilas atau hanya mendengar satu lagu. Seperti yang terjadi dengan lagu "Aku Adalah Tuhan" yang sempat menuai pro dan kontra karena liriknya yang dinilai kontroversial. Untuk bisa menangkap apa yang Beside sampaikan melalui lagunya, lebih baik didengarakan satu album penuh, agar pesan yang mereka sampaikan tertangkap secara utuh.
Sekitar tujuh tahun jeda waktu dari album Against Ourselves ke album Eleven Heroes. Pengaruh musik yang mereka dengarkan pun terus mengalami progress yang cukup signifikan, sehingga output musik yang Beside hasilkan pun menjadi berbeda. Meski begitu, benang merah Beside dengan ciri melodiusnya masih terasa kuat, terutama pada departemen gitar, dengan permainan duet yang bersahutan. Agresivitas melodi dan ritmis yang Beside hasilkan di album ini terdengar solid dan matang. Sehingga, tidaklah mengherankan jika pada akhirnya album ini masuk dalam jajaran The Best Album Tahun 2015 di beberapa majalah musik, baik di Indonesia maupun versi majalah Metal Hammer, UK.
Sumber Foto: Diambil dari rilisan pers Beside.
Comments (1)