Vincent Vega: Langkah Baru, Kesibukan, dan Cita Citata

Vincent Vega: Langkah Baru, Kesibukan, dan Cita Citata

by: Bobby Agung Prasetyo

Sudah beberapa tahun kebelakang, kita urung mendengar gaung dari Vincent Vega. Yang saya maksud adalah grup band asal Bandung, bukan partner Jules Winnfield di sinema “Pulp Fiction”. Ya, masih ingatkah anda dengan band ini? Pemenang sebuah festival musik di tahun 2007 tersebut, kini hadir dengan banyak perubahan. Selain vokalisnya, Ariel William Orah a.k.a El pergi melanjutkan studi di Jerman lalu digantikan posisinya oleh sang adik, Rhesatama Anthony Orah atau akrab disapa Eca, orkes indie rock paling membanggakan ini juga coba membawa kebiasaan dan rules baru untuk mereka jalani saat ini secara perlahan namun pasti.

Memiliki pekerjaan di luar bermusik dan menikmati indahnya kehidupan rumah tangga adalah fase yang cukup membuat Vincent Vega sibuk akhir-akhir ini, sehingga butuh waktu untuk dapat tampil seutuhnya ke permukaan. Lesunya gigs di Bandung, menurut mereka juga menjadi andil mengapa empat orang lainnya yakni Fikri (gitar), Sogan (gitar), Aul (bass), dan Aryo (drum), terlihat seolah vakum. Sekalipun dibilang comeback, tapi mereka lebih santai dalam menyikapinya serta mencoba ‘tuk berkompromi dengan kesibukan masing-masing.

Anggaplah Vincent Vega adalah band yang baru (karena coba memulai semuanya dari awal lagi), saat ini pun mereka berhasrat untuk kembali tampil dengan merencanakan untuk dapat tampil di gig-gig kembali. Mengolah materi pun pasti—dengan warna yang lebih segar—namun masih harus berpikir atas nama finansial.

Warna yang lebih segar? Apakah yang dimaksud?

Jadi begini, kalimat tersebut patut digarisbawahi karena saat ini Vincent Vega hadir secara unik dengan beberapa ­influence-nya yang dirasa berbeda dengan karakteristik mereka. Cukup kaget ketika pendengaran saya menangkap, bahwa Eca cs kini menikmati musik-musik macam Queens of The Stone Age, Mastodon, The Mars Volta, dan..... Cita Citata (yang terakhir masih saya perdebatkan dalam diri, karena.. ah sudahlah). Silahkan bayangkan, apa yang akan terjadi dengan materi terbaru mereka selanjutnya.\

Kita ingat dengan lagu andalan mereka dulu berjudul Shane, yang terinspirasi dari sebuah tokoh di serial TV. Tembang yang seksi, memikat, cepat, dan epic sekali yang juga terdapat dalam album mereka “Always Hard to Make a Change, Just Like How to Stay The Same” tersebut, selain menjadi pengingat akan masa jaya Vincent Vega, juga menjadi momen personal karena lagu ini telah membuka wawasan saya yang waktu itu masih menginjak bangku SMP, terhadap pengertian akan musik alternative rock lokal.

Belum lengkap rasanya bila belum berimajinasi. Vincent Vega coba memimpikan hal ini, yaitu skena lokal pada umumnya dapat kembali ramai—setidaknya—di akhir minggu, karena hal tersebut menjadi ajang bagi band lama maupun untuk memiliki wahana mediasi dan sepanggung bersama-sama. Bukankah itu, guratan mimpi sederhana namun mendalam yang akan selalu menjadi harapan para pelaku musik bagi skena tempatnya lahir dan berdiri? Semoga tak hanya Eca cs saja band ini saja yang ingin hal ini direalisasikan, tapi juga pelaku dan penikmat musik lain.

Foto : Vincent Vega Docs

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner