Vinyl yang Selalu Berputar dan Tidak Akan Pernah Mati
Vinyl atau piringan hitam. Kata itu mengingatkan para musisi tahun 70-an dimana lagu-lagu dikumandangkan lewat piringan hitam. Bukankah itu benda jadul yang sudah kadaluarsa ? Pertanyaan ini tentu akan ditolak oleh para kolektor piringan hitam dan para pemerhati musik. Kini orang telah menjadikan piringan hitam sebagai pilihan favorit para penggemar musik di seantero dunia, karena ternyata kualitas suaranya bagus dan awetnya kondisi fisiknya.
Dimulai dari tahun 1877 dimana Thomas Edison menemukan teknologi alat perekam pertama yang menjadi prototip Phonograph, sebuah alat yang bisa merekam suara meski masih seadanya. Suara pertama yang direkam lagu anak – anak “Mary Had a Little Lamb.” Lalu ditemukanlah Gramophone oleh Emile Berliner di tahun 1888 dan mulai dipasarkan pada tahun 1894. Gramophone memainkan suara yang direkam dalam bentuk rekaman fisik yang berbahan vinyl berbentuk cakram hitam alias piringan hitam. Piringan hitam sendiri berawal dari disc gramophone, yang prototip dari piringan hitam. Disc gramophone dikembangkan oleh Western Electric dan diperkenalkan tahun 1926. Piringan hitam diperkenalkan oleh RCA (Radio Corporation Of America) di tahun 1930 dan dikembangkan oleh Columbia pada tahun 1939.

Piringan hitam awalnya terbuat dari bahan kaca, karet, bahkan plastik. Tapi bahan yang paling terkenal adalah dari Shellac, yaitu bahan kapas yang biasa digunakan untuk membuat kertas manila. Namun karena mudah rusak, akhirnya ditemukan bahan yang awet, yaitu plastic vinyl, sejenis plastic polymer. Piringan hitam ini sedikitnya ada tiga ukuran salah satunya 7” (7 inch).
Putaran piringan hitam paling kecil adalah 45 rpm. Lalu ada 10” yang hampir mirip 7” namun dengan kapasitas yang lebih banyak, dan terakhir 12” atau sering disebut L.P (Long Play). Jenis ini paling banyak ditemukan karena format album menggunakan jenis ini. putaran jenis vinyl ini adalah 33 1/3 rpm.
Awalnya rekaman L.P hanya tersedia dalam format mono, namun akhirnya muncul format stereo pada tahun 1957, dan mencapai puncaknya pada era 70an dengan format suara Quadrophonic atau empat channel. Namun format empat channel tidak sepopuler format stereo karena keterbatasan alat pemutar pada saat itu.
Pada saat itu, penggunaan Gramophone masih manual, menggunakan tangan untuk memutar motor penggeraknya. Lalu akhirnya pada 1925 dikembangkan alat bernama Turntable. Cara kerja Turntable sebenarnya sama saja dengan Gramophone, tetapi Turntable berkerja menggunakan listrik dan output suaranya menggunakan speaker. Cara memutar musik dari piringan hitam sama saja disemua alat pemutarnya, yaitu dengan menggunakan stylus, yang berbentuk seperti jarum yang berada di pinggiran piringan hitam. Stylus berfungsi untuk mencatat simpangan gelombang suara yang direkam di piringan hitam dan kemudian meneruskannya ke alat pengeras suara.
Industri rekaman piringan hitam sempat dikagetkan oleh kemunculan radio. Pada awal radio naik daun, penjualan rekaman piringan hitam turun drastis hingga separuhnya. Masyarakat saat itu lebih suka mendengarkan musik dari radio, karena tidak perlu capek – capek membeli rekaman album aslinya. Namun akhirnya disadari bahwa radio bisa menjadi alat promosi album rekaman yang efektif, dan juga mendongkrak penjualan alat pemutar rekaman. Industri rekaman piringan hitam juga terdongkrak naik dengan munculnya musik Rock n’ Roll. Para pemuda pada saat itu berbondong – bondong menuju record store dan membeli album Rock n’ Roll.
Kaset Tape mulai dikenal 1963, namun masih belum bisa menandingi popularitas dan kualitas piringan hitam. Dan akhirnya muncul Compact Disc atau CD yang populer pada era 80an dan menggeser popularitas piringan hitam, karena lebih praktis, dan muncul format musik baru bernama mp3. Namun dewasa ini, popularitas piringan hitam kembali naik. Gara – gara adanya sharing mp3 gratis di dunia internet membuat penjualan CD menurun.
Survey Nielsen SoundScan pada beberapa tahun kemarin, penjualan CD lesu, tapi penjualan piringan hitam naik pesat hingga sebesar 14% dibanding tahun sebelumnya. Banyak musisi luar negeri merilis album barunya dengan format piringan hitam. Suara yang keluar dari piringan hitam juga lebih jernih dan prima,.
Di Indonesia, penggunaan piringan hitam sebagai media penyimpanan album rekaman mulai digunakan sekitar tahun 1957 dengan perusahaan rekaman seperti Lokananta dan Irama. Lokananta awalnya perusahaan rekaman piringan hitam sederhana yang didirikan oleh Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero 1950 di Surakarta, Jawa Tengah. Lokananta mulai memasarkan piringan hitam pada 1958 melalui RRI. Status Lokananta sekarang menjadi perusahaan negara dan menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara RI.

Rilisan dari Lokananta antara lain seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Sam Saimun dan masih banyak lagi. Juga terdapat rekaman pidato-pidato kenegaraan mantan Presiden Soekarno dan rekaman “Indonesia Raya” dan lagu “Rasa Sayange” yang sempat menjadi polemik. Namun sayang, perusahaan itu kini terancam bangkrut likuiditas keuangannya terus nyusut. Para musisi Indonesia juga mulai rekaman di sana, seperti Glenn Fredly, White Shoes & The Couples Company, Pandai Besi, Burgerkill, Seringai, Dead Squad, Hingga The Upstairs. Maraknya kembali vinyl record, sebuah fenomena industri musik yang patut untuk diapresiasi. Budaya mengunjungi record store yang sebelumnya hampir punah karena munculnya musik digital/mp3, kini kembali hidup. Hasrat mengkoleksi piringan hitam semakin memuncak karena menaruh jarum turntable di atas piringan hitam, mendengarkan suara musik yang keluar dari speaker sembari membaca liner notes dari dalam sampul album merupakan ritual yang tak akan pernah mati.
Dari Berbagai Sumber
Oleh: Karel
Foto: Istimewa
Comments (0)