Alih Fungsi Jadi Band, The Colour Mellow Awali dengan Rilis "(down)"
The Colour Mellow menyinggung fenomena sosial 'saviour complex' di single-nya berjudul "(down)". Ini jadi awalan langkah mereka pasca meredefinisi The Colour Mellow: dari proyek solo bertransformasi menjadi kuartet.
The Colour Mellow merupakan proyek musik yang dibuat oleh Marvin Saliechan. Ingin bereksperimen dengan suara dan nada, ia membuat The Colour Mellow sebagai wadah proyek solonya. Shoegaze dan paduan dengan slowcore maupun alternative rock jadi musik yang ia eksplorasi dalam The Colour Mellow. Di tahun 2015, ia berhasil merilis album mini pertama yang berjudul who we had become di bawah netlabel asal Jepang, kiiro records.
Perlahan, proyek musik The Colour Mellow terabaikan. Tuntutan pekerjaan jadi alasan utama dari "terlantarnya" The Colour Mellow. Selain itu, Marvin juga turut terlibat di band post-hardcore Rekah sebagai gitaris pada 2015-2019, dan aktif sebagai seorang Disk Jockey untuk kolektif Dizkorea sejak 2018. Diakui Marvin, jika bukan karena Peter A. Walandouw yang terus mengajak The Colour Mellow tampil live, proyek musik tersebut mungkin hilang sepenuhnya.
Tahun 2020 jadi waktu The Colour Mellow sepenuhnya merubah konsep. Menanggalkan identitas sebagai proyek musik solo, The Colour Mellow kini hadir dalam format band dan memiliki personil tetap. Marvin menggandeng beberapa nama: seorang penggemar punk rock dan anggota band funk revival asal Bogor, Tokyolite yaitu Alexander Bramono sebagai bassist, lalu seorang sosok yang sudah berpengalaman di berbagai genre yaitu Garbanu Priaduaja di bagian perkusi, dan seorang penggemar progressive metal yang memiliki sampingan di Nafiri Music yaitu David Tobing sebagai gitaris.
-cover-1587548035.jpg)
Artwork "(down)" oleh rkv | Sumber: siaran pers
Dengan definisi baru The Colour Mellow sebagai sebuah kolektif, mereka merilis sebuah single yang berjudul "(down)". Lagu ini berisi tentang singgungan dari sebuah fenomena sosial, yaitu tentang seberapa lelahnya berada di sekitar orang-orang dengan "saviour complex". Yang mereka maksud di sini adalah orang-orang yang seringkali merasa dirinya pantas untuk "membimbing" atau "membantu" ketika kita dirundung masalah. Namun, pertanyaannya adalah: apakah mereka benar-benar membantu? Apakah jangan-jangan mereka pun tak memiliki kemampuan untuk membantu?
Orang-orang tersebut biasanya muncul dengan rencana dan cita-cita ingin membantu. Namun, kadang apa yang mereka utarakan "tidak diperlukan". Contoh sederhananya: kamu sedang berduka karena ditinggal orang terkasih, lalu ia hadir dan berkata "jangan sedih". Atau, kamu sedang ada di titik terendah hidup dan ia hadir dengan kata "ayo, kamu bisa". Apa gunanya memberi wejangan untuk tidak bersedih pada orang yang sedang dirundung malang? Bahwasanya ia pun selalu ingin untuk bahagia dan dilarang sedih adalah hal yang tidak perlu menjadi titah, bahkan bukan solusi. Apalagi jika orang-orang itu hanya tahu cerita kulitnya, tapi tak benar-benar mendengar atau mengerti apa yang kita alami.
Kisah ini mereka ceritakan lewat melodi indah yang dimainkan dengan tone gitar kasar. The Colour Mellow ingin mengedepankan suasana yang terasa nyaman, namun tidak aman. Ada rasa gelisah yang mereka utarakan di tengah keriuhan, dan "(down)" mereka rasa jadi media penyampai keluhan yang tepat.
Masing-masing personil The Colour Mellow merekam lagu "(down)" secara terpisah. Setelah proses rekaman selesai, Garbanu Priduaja bertugas untuk melaksanakan proses mixing, dan disempurnakan oleh Alexander Bramono lewat proses mastering. Lagu "(down)" dari The Colour Mellow bisa disimak melalui berbagai pelantar musik digital, seperti Spotify, Apple Music, Amazon, Joox, Deezer dan lain-lain sejak 27 Maret 2020.
Comments (0)