Ciamiknya “Can Macanan”, Hasil Karya Animator Asal Madura, Lorjhu
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Lorjhu
Perpaduan antara unsur musik tradisi dan modern menjadikan lagu “Can Macanan” menawarkan paket unik yang mengedepankan gagasan kelokalan Nusantara dan kehidupan di Madura, utamanya daerah pesisir
Badrus Zeman, sosok utama di balik entitas musik Lorjhu (baca: lorcuk, artinya kerang bambu) lahir dan besar di Sumenep, daerah pesisir Pulau Madura. Dia kemudian berkiprah sebagai seorang animator yang juga pengajar di ibu kota. Pada 2019 akhir, Badrus mencoba kembali format musik yang diinginkannya sejak lama, yakni perpaduan antara unsur musik tradisi dan modern. Terbentuklah Lorjhu yang kemudian merilis single perdananya berjudul “Nemor”, pada Februari 2020 lalu.
Kehidupan di Madura, utamanya daerah pesisir, hadir sebagai tema utama lagu-lagu Lorjhu. Musik yang dihasilkannya mengekspresikan rasa pesisir Madura dengan sensibilitas kontemporer, hingga kemudian Lorjhu menyelaraskan bunyi tradisi dengan indie-rock anak muda Jakarta.
Perusahaan rekaman Demajors kemudian tertarik dan menghadirkan album perdana Lorjhu berjudul Paseser dalam format digital dan compact disc pada 18 Maret 2022 kemarin. Album Paseser (pesisir) berisikan sembilan trek yang berporos pada dinamika penyelaman identitas seorang Badrus Zeman. Delapan dari sembilan trek yang mengisi album sempat hadir di pasaran sebagai rilisan-rilisan lepas dalam format digital. Dari mulai singel pertama yang dirilis tepat sebelum pandemi, “Nemor”, hingga yang paling banyak diputar di platform seperti “Kembang Koning”. Menariknya, semua lagu lirik ditulis dalam bahasa Madura.
“Setiap lagu menggambarkan hal-hal yang pernah saya alami saat kecil. Ada juga rasa rindu dan panggilan untuk pulang. Untuk mengungkapkan itu semua saya lebih nyaman dengan bahasa Madura,” ujar Badrus menjelaskan.
Kiprah Lorjhu’ berbarengan dengan datangnya pandemi, hingga hal itu membuat hampir semua proses produksi dilakukan sendiri oleh Badrus di rumah hanya dengan menggunakan perangkat smart phone, serta sedikit bantuan laptop.
Semua instrumen dimainkan oleh dirinya sendiri, kecuali di trek “Nemor” dan juga yang terbaru, “Can Macanan” yang menampilkan permainan perkusi seorang musisi asal Sumenep, Rifan Khoridi. “Can Macanan” sebagai lagu teranyar menjadi singel utama yang akan menghantar perilisan album Paseser ke pasaran. Lagu anthemic ini berkisah tentang sebuah kesenian barongan khas Madura yang berwujud binatang macan, yang juga menjadi bagian pengalaman masa kecil Badrus.
Dengan semangat kemandirian serta potensi mentahnya album Paseser, diharapkan menjadi pondasi dari kiprah seru Lorjhu di dunia musik. Paket unik yang ditawarkannya yang mengedepankan gagasan kelokalan Nusantara tampak mulai menarik perhatian tidak hanya penggemar musik dalam negeri.
“Selama pandemi semua serba online dan mandiri, apresiasi pun jadinya terlihat lebih global, seperti ada radio online di Polandia yang memainkan lagu-lagu Lorjhu,” jelas Badrus.
Ke depannya Badrus ingin memperbesar kemungkinan lingkup ekspresi Lorjhu. Lorjhu yang belum sempat manggung dengan proper ingin sekali segera bisa tampil membawakan lagu-lagunya dengan format full band. Bisa juga nantinya Lorjhu menjadi sebuah grup band utuh, bisa juga tetap solo dengan iringan band. Yang pasti Badrus akan berusaha membawa pengalaman saat di kampung dulu ke dalam paket pertunjukan Lorjhu.
Untuk menebalkan ekspansi lagu “Can Macanan”, demajors bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) yang berkomitmen memajukan musik dari jalur budaya dan hiburan dengan memutar lagunya di seluruh stasiun RRI di seluruh Indonesia. Sedangkan video musik “Can Macanan” sudah bisa disimak di kana Youtube Demajors. Video ini digarap langsung di Sumenep oleh Badrus sendiri dengan hanya menggunakan kamera smart phone. Seperti apa? Simak videonya melalui tautan di bawah ini.
Comments (0)