Daur Hidup dan “Bara Berkah”: Perjalanan Musik Spiritual dari Makassar
Di tengah pandemi COVID-19 yang membatasi aktivitas panggung dan pertunjukan langsung, muncul semangat baru dari tanah Gowa, Sulawesi Selatan. Yayasan Kesenian Katangka Gowa, merespons banyaknya wadah pertunjukan virtual yang digagas pemerintah dengan melahirkan kelompok musik bernama Daur Hidup. Kelompok ini terbentuk dari semangat kolektif untuk tetap berkarya di masa krisis, dan nama “Daur Hidup” sendiri lahir dari karya pertama mereka yang berjudul sama—sebuah penanda awal perjalanan musikal yang sarat makna.
Beranggotakan Very (vokal), Ocang (suling), Aco dan Wiwin (kacaping 1 & 2), Apo (gitar), Dion (bass), serta Aan (perkusi), Daur Hidup menjadikan musik sebagai medium syiar. Bagi mereka, musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan, baik dalam konteks keagamaan maupun nilai-nilai kemanusiaan.
Langkah pertama Daur Hidup di ranah musik digital ditandai dengan perilisan single perdana bertajuk “Bara Berkah”. Lagu ini bukan ciptaan sembarangan, melainkan interpretasi mendalam terhadap teks “Pepe’-pepeka ri Makka”, syair tradisional yang biasa mengiringi tarian dengan nama yang sama. Dalam tradisi Sulawesi Selatan, Pepe’-pepeka ri Makka dikenal sebagai bagian dari penyebaran Islam yang sarat dengan semangat dakwah dan nilai spiritual. Salah satu penggalan syairnya, “Ya Allah parombasai na takkabere’ dunia” yang berarti “Ya Allah permudahkanlah agar dunia ini bertakbir,” menjadi inspirasi utama dalam penyusunan lagu ini.
“Bara Berkah” hadir bukan sekadar mengangkat nilai-nilai sejarah dan tradisi, tetapi juga mengukuhkan pentingnya warisan spiritual yang dibawa para ulama ke tanah Makassar. Bara api yang dibawa para penyebar agama diibaratkan sebagai cahaya berkah bagi masyarakat setempat—gagasan inilah yang coba dipertegas lewat lagu tersebut.
Secara musikal, komposisi “Bara Berkah” menampilkan kekhasan yang jarang ditemukan dalam lanskap musik Makassar kontemporer. Alih-alih menjadikan gitar atau piano sebagai tumpuan utama melodi, Daur Hidup mengandalkan kacaping—alat musik tradisional Sulawesi Selatan yang menyerupai kecapi. “Umumnya penulisan lagu banyak menggunakan instrumen gitar atau piano. Sedangkan kami menggunakan kacaping dalam menyusun melodi lagu, sehingga menimbulkan skala tangga nada yang unik,” ungkap Aco, salah satu pemain kacaping.
Keunikan lagu ini semakin diperkuat oleh perpaduan dua kacaping yang menjadi fondasi melodik, tiupan suling yang mempermanis suasana, serta pengisian ritmik yang solid dari gitar, bass, dan perkusi. Hasilnya adalah komposisi yang terasa hangat, spiritual, dan kental akan nuansa etnik—menciptakan ruang kontemplatif sekaligus reflektif bagi pendengarnya.
Dengan “Bara Berkah”, Daur Hidup bukan hanya menyajikan musik yang enak didengar, tapi juga menghidupkan kembali akar spiritual dan kultural yang sering kali terlupakan. Mereka membuktikan bahwa musik tradisional masih bisa relevan, kuat, dan menyentuh—selama ia berbicara dengan hati dan berniat untuk membawa kebaikan.
Comments (0)