'Fragmentia Anak Adam', Alunan Keindahan dan Ironi
Fragmentia Anak Adam merupakan album perdana dari band pop akustik asal Tasikmalaya, The Melodrama. Tujuh buah lagu atmospheric dengan balutan produksi yang baik disajikan dalam album yang dirilis di bawah naungan label Demajors.
Lima tahun yang lalu, sebuah unit pop akustik terbentuk di Tasikmalaya. Band ini dinamai The Melodrama, grup dengan format trio yang diperkuat oleh Abe (vokal/gitar), Pupung Purnama (gitar) dan Hilman (synthesizer). Materi-materi The Melodrama banyak membahas tentang kehidupan, mulai dari cinta, sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup, dimainkan dengan pola musikalitas kombinasi indie pop, British pop dan folk.
Karya-karya The Melodrama kemudian dirangkum dalam sebuah album bertajuk Fragmentia Anak Adam. Album ini merupakan album perdana dari The Melodrama dan berisi tujuh buah lagu, yaitu "Aurora", "Kidung Sang Perantau", "Boneka Kayu", "Monumentalis Plastik", "Polaroid", "Sepertiga Cahaya" dan "Canting Terakhir". Fragmentia Anak Adam dirilis pada bulan November 2018 dinaungi label Demajors.
Tujuh lagu ini dibalut pola musikalitas yang sederhana dan mudah untuk diingat, namun berkarakter. Alunan vokal Abe, petikan gitar nylon dari Pupung dan suara unik dari synthesizer yang dimainkan Hilman membangun atmosfir yang mengantarkan pendengar musik The Melodrama seolah masuk ke satu ruang dan dimensi yang berbeda.
Warna musik yang terkandung dalam keseluruhan lagu di album ini berkaitan satu sama lain. Untuk tema, The Melodrama berangkat dari satu tema besaran tetapi mereka meramunya dengan variatif. Keindahan alam, budaya, romantisme masa kanak-kanak hingga realita dan ironinya bisa ditemukan di masing-masing materi dalam album ini.
Comments (0)