Gemuruh Emosi akan Politik Hari Ini, Anesseria Resmi Lepaskan Debut Album

Gemuruh Emosi akan Politik Hari Ini, Anesseria Resmi Lepaskan Debut Album

Unit grunge asal Malang, Anesseria, akhirnya merilis debut album penuh mereka yang bertajuk Suar pada 20 Mei 2024 melalui Srawung Records. Setelah enam tahun sejak band ini terbentuk pada 2018, kuintet ini menghadirkan sebuah karya yang bukan hanya sekadar nostalgia akan musik grunge 90-an, tapi juga menjadi medium penyampaian keresahan sosial dan politik dari sudut pandang anak muda masa kini.

Perjalanan rilisan Anesseria dimulai lewat single pertama “Pengecut” di tahun 2020, diikuti oleh “Musnah” (2022), dan “Jati Diri” (2023) yang menjadi pengantar menuju Suar. Album ini merupakan hasil eksplorasi pemikiran kritis para personilnya terhadap dinamika sosial dan politik Indonesia yang semakin kompleks. Anesseria memposisikan diri sebagai suara alternatif—mewakili perlawanan, kritik, dan harapan anak muda terhadap tatanan yang ada.

“Suar adalah bentuk keresahan kolektif kami sebagai anak muda yang hidup di era serba cepat, serba digital, tapi masih terjebak dalam sistem sosial-politik yang penuh ketimpangan,” ujar Faishal, sang vokalis. Dalam albumnya, Anesseria menggambarkan bagaimana generasi muda bisa menjadi agen perubahan lewat keberanian menyuarakan opini, sekaligus menolak untuk diam di tengah tekanan.

Secara musikal, Suar menyajikan perpaduan grunge khas era 90-an yang kental dengan elemen metal yang menggigit. Meski banyak terinspirasi dari band seperti Nirvana, Foo Fighters, Audioslave, hingga unit lokal seperti Besok Bubar dan Navicula, Anesseria tidak sekadar menjiplak. Mereka menyuntikkan semangat baru lewat riff-riff segar dan progresi chord yang terkesan modern tanpa kehilangan roh mentah grunge yang mereka usung.

“Kami memang terinspirasi dari grunge klasik, tapi kami tidak ingin terdengar kuno. Kami hadir dengan riff yang fresh, khas Malang, dan tetap menjaga karakter kami,” tambah Faishal.

Anesseria terdiri dari Faishal (vokal), Mayga (gitar), Gilang (gitar), Bagas (bass), dan Marcellino (drum). Seluruh lagu di Suar ditulis secara kolektif, mencerminkan semangat kebersamaan dalam menyalurkan keresahan mereka. Menariknya, proses produksi album ini pun cukup mandiri—Marcellino turut mengambil peran sebagai produser sekaligus melakukan mixing dan mastering di H4ze Studio, home studio miliknya.

Proses pembuatan album berlangsung selama hampir empat tahun, dari 2020 hingga akhir 2023. Suar kini tersedia di berbagai digital streaming platforms dan menjadi penanda penting eksistensi Anesseria sebagai suara alternatif dari Malang yang patut diperhitungkan.

Dengan Suar, Anesseria tidak hanya merayakan semangat grunge, tapi juga menghidupkan kembali fungsi sosial musik sebagai medium kritik dan perubahan. Sebuah debut yang lantang, penuh karakter, dan menjanjikan masa depan cerah bagi skena rock alternatif Indonesia.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner