Intenna Sodorkan Debut Perdananya, ‘Helter Skelter’

Intenna Sodorkan Debut Perdananya, ‘Helter Skelter’

Pada 2010, Intenna muncul pertama kali ke permukaan. Bermodalkan satu lagu pertama, Little Miss Sunshine, mereka pun berpartisipasi dalam scene musik Malang yang pada tahun itu didominasi oleh kancah musik punk, hardcore, dan emo. Saat itu, tak mudah untuk bisa menarik perhatian pendengar yang telah terbiasa dengan atmosfer musik kencang. Namun, bantuan Koalisi Nada cukup mempermudah prosesnya. Lewat kompilasi Koalisi Nada yang keluar di tahun 2012, intenna pun mulai ikut dalam perayaan musik independen di kota itu. 

Selama hampir 5 tahun perjalanannya, kuintet Ni Nyoman Nanda Putri Lestari (vokal), Dwianto Prastowo (gitar), Ovan Zaihnudin (gitar), Pugud Haidi Agusdilla (bass), Hendra Alfaroq Suhaimi (drum) telah melalui banyak hal. Selayaknya band independen lainnya, intenna hadir dalam gigs-gigs kecil juga kompilasi-kompilasi mandiri yang digagas oleh teman sendiri. Sebut saja, kompilasi Burn The Line (2014), juga kompilasi internasional REVOLUTION (2015), hasil kerjasama Ear to Ear Records (UK) dan Gerpfast Kolektif (Indonesia). Intenna pun, bersama dengan Guttersnipe, band grunge asal Malang, telah merilis kaset split dibawah naungan For The Records  di tahun 2013. 

Perilisan album di tahun 2015 kemudian menjadi babak baru kehidupan intenna. Harapannya begitu. “Album pertama adalah sebuah awal dan upaya intenna untuk terjun ke dunia musik secara profesional,” ujar Antok, gitaris intenna. 

Barongsai Records, label independen asli Malang yang dijalankan oleh Andi Alo (Ajer/Sarajevo), pun diajak sebagai teman kerja. “Kita udah kenal secara personal dengan Barongsai,” lanjut Antok ketika ditanya alasan intenna memilih Barongsai Records sebagai partner. 

Album pertama ini berjudul Helter Skelter. Berisi 10 lagu yang menceritakan banyak hal, yang sebagian besar terinspirasi dari kehidupan nyata. Mulai dari kisah pelecehan seksual, kegelisahan anak-anak korban perceraian, hingga krisis perkotaan. Flowery pun masuk dalam daftar. Selain itu ada White Shadow, Glimpse, Hama, Thirst, Half a Lie, Horse, Nosebleed, Lantur, dan versi lain dari Memar. Kesemuanya direkam di Malang. Khusus untuk vokal dari Lantur, direkam di Jakarta.

Judul ini sendiri berarti ganda. Ada yang mengartikannya sebagai disorder atau confusion, ada pula yang merelasikannya dengan sebuah permainan di taman hiburan: a tall spiral slide winding around a tower  at a fair. Jika mendengar kesepuluh lagu intenna di album ini yang terkesan sebagai hasil ‘main-main’ mereka atas aransemen lagu, intenna lebih condong pada pengertian kedua. Namun, jika mendengar pengakuan mereka tentang judul ini, maka pengertian pertama pun sah untuk digunakan. “Nama tersebut sangat cocok untuk intenna karena proses bermusik kita selama 5 tahun ini menghadapi banyak hal dan kita diuji untuk bisa melalui hal itu,” tukas mereka.

Mereka pun merilis single dari album Helter Skelter berjudul “half a lie”. Lagu ini berada di urutan ke sembilan dari sepuluh lagu di album ini. Rencananya mereka akan merilis “half a lie” pada tanggal 1 september esok melalui soundcloud mereka di https://soundcloud.com/intenna. Lagu ini adalah sebuah pengenalan baru dari intenna dengan Helter Skelter-nya. Silakan dengar kesepuluh lagu mereka dalam cakram padat dengan artwork dari Yujin, seniman Malang, sebagai cover-nya. 

Foto: Intenna Docs.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner