Jemala Tampil Lebih Lepas dalam Album Terbarunya

Jemala Tampil Lebih Lepas dalam Album Terbarunya

Sumber Foto : Diambil dari rilisan pers Jemala

Fragments adalah album instrumental, yang maknanya bebas diinterpretasikan oleh siapa pun yang mendengarkan

‘Tidak berada dalam sorotan’ ternyata menjadi hal yang paling signifikan, yang sayangnya baru mereka sadari dalam beberapa waktu terakhir menjalani Jemala. Ternyata, ada keistimewaan dan kebebasan dalam menjelajahi hal-hal yang ingin Jemala coba, tanpa terbebani ekspektasi dari siapapun — mulai dari mengubah pendekatan musik, tampilan visual, distribusi, hingga unggahan media sosial.

Dahulu, Jemala merasa rilisan mereka harus sampai ke orang-orang, seolah rilisan tersebut harus memiliki arti dan relevan bagi siapa pun yang mendengarkan. Padahal, pada hakikatnya, rilisan Jemala harus terasa penting bagi mereka sendiri. Dan itu sudah cukup.

Fragments adalah kumpulan sketsa—baik yang sudah final maupun belum, outtakes, jam dan eksperimen Jemala dalam bunyi, yang tidak terbatas pada band ini yang sudah ada sebelumnya. Jemala banyak terinspirasi oleh Novo Amor dan Sufjan Stevens yang tidak terpaku pada formula bunyi yang sudah dikenal banyak orang. Mereka bahkan tidak ragu untuk merilis single/album yang tidak menampilkan suara khas mereka. Fragments adalah album instrumental, yang maknanya bebas diinterpretasikan oleh siapa pun yang mendengarkan.

Terbentuk di Jakarta pada tahun 2020, Jemala mencoba menyajikan musik folk yang mengeksplorasi pendekatan dari musisi-musisi yang mempengaruhi mereka, seperti: Sufjan Stevens, The Trees and The Wild, Novo Amor, Bin Idris dan The Middle East. Jemala yang terdiri dari Theo Cahya dan Riady (Anak Utara) sudah merilis tiga EP berjudul “St.Germain”, “Casement”, dan “Tanpa Suara” untuk menunjukkan eksistensinya di skena musik lokal.

BACA JUGA - Ngalor-Ngidul bersama Skabanton di Album Terbarunya ‘Kian Kemari’

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner