Melanjutkan Kiprahnya, Dirty Ass Rilis Gandegan Demajors Lahirkan ‘Distopia’ Format CD
Sumber foto : Diambil dari rilisa pers Dirty Ass
Momentum Record Store Day kali ini menjadi kesempatan demajors untuk meluncurkan album ketiga dari Dirty Ass, trio punk rocker asal Tangerang yang bertajuk Distopia
Situasi dan kondisi yang semakin kondusif, membuka peluang-peluang untuk kembali menggelar berbagai pagelaran yang dapat mengundang massa, meskipun sesekali masih sering terhambat birokrasi yang kian rumit. Khusus di wilayah musik, pada tahun 2022 ini salah satu gelaran yang paling ditunggu; Record Store Day akhirnya dapat digelar ulang serentak di Jakarta, Bogor serta Bali.
Momentum Record Store Day kali ini menjadi kesempatan demajors untuk meluncurkan album ketiga dari Dirty Ass, trio punk rocker asal Tangerang yang bertajuk Distopia. Format cakram padat dipilih lewat kerja sama dengan label rekaman asal Jakarta tersebut. Sebelumnya, album Distopia telah dirilis dalam format pita kaset dan digital melalui label rekaman asal kota Seattle, Amerika Serikat, Youth Riot Records dan secara lokal oleh Necros Records.
“Tahun 2020 sungguh mengubah banyak perspektif personal kami. Beberapa persoalan hidup, pandemi, mengubah kebiasaan dan rutinitas, dipaksa harus berhenti,” ujar Gerry, sang vokalis dan gitaris, mengenai kisah di balik terjadinya album.
“Tajuk Distopia sendiri dipilih karena terasa pas mewakili apa yang kami alami selama kurun waktu 2020 sampai sekarang,” tambahnya.
Perilisan CD Distopia melanjutkan kiprah salah satu singel pengisi album, “Sembah”, yang terpilih sebagai salah satu trek utama dalam ajang Jameson Connects Indonesia 2022. Sejauh ini, Dirty Ass yang beranggotakan Gerry L. Fauzi pada vokal dan gitar, Gilang Fresandy pada gitar bas, dan Bayu Samudro pada drum telah merilisi dua album yang bertajuk Irama Penendang Bokong (2016) dan Seliar Binatang (2018). Tercatat, Dirty Ass juga pernah bekerja sama dengan berbagai label rekaman lokal maupun internasional, di antaranya City To City Records (St. Petersburg, Rusia) dan Brainwasher Records (Hamburg, Jerman).
Untuk artwork album CD Distopia dibuat oleh seorang seniman yang juga berasal dari Tangerang, Rijan Maulana. Gaya komik Amerika yang ia pakai berhasil menangkap intisari dari Distopia, sehingga pas menjadi wajah dari album. Catatan penting lainnya, album Distopia juga terpilih menjadi nominator untuk kategori hardcore/punk terbaik serta sampul album terbaik di Extreme Moshpit Awards 2021, ajang anugerah musik cadas Indonesia. CD album Distopia dalam format cakram padat sudah bisa didapatkan melalui www.demajors.com serta seluruh jaringan edar demajors.
Sedikit catatan rekan-rekan musisi/media tentang album Distopia milik Dirty Ass
“Marah, cemas, sinis, anjing ini album! Gue sangat menikmati sound di album ini, raw tapi tidak asal. Gue berasa dicakar-cakar dengan sound gitar crunchy-nya!" – Pandu Fuzztoni (Morfem, The Adams, Zzuf)
“Dirty Ass adalah tekad yang bulat dan kenekatan dalam memainkan musik hardcore punk yang kolot disertai lirik yang menggonggong dan menggigit keras…” – Doddy Hamson (Komunal)
“10 lagu di album ini berhasil menyalurkan semangat dan suara hardcore punk awal ’80-an tanpa hanya menjadi band rip-off yang hambar dan basi.” – Indra Menus (To-Die, Narcholocos)
“Dekade ‘80-an adalah era di mana punk rock naik tingkat menjadi lebih kencang dan ngebut, yang dikenal dengan istilah hardcore punk. Sayangnya, banyak band hardcore punk di era tersebut yang tidak kreatif, sehingga musiknya jadi membosankan dan mudah ditebak. Selalu ada banyak ruang di dalam hardcore punk untuk bereksperimen. Sejarah mencatat, ada beberapa band lokal (dengan pengaruh hardcore punk ’80-an) yang bisa memanfaatkan ruang tersebut, mereka adalah: Bequiet (dari dekade ‘90-an), Milisi Kecoa (dari dekade 2000-an), Nervous Breakdown (dari dekade 2000-an), The Kuda (dari dekade 2010-an), dan Tarrkam (dari dekade 2010-an). Siapa yang mewakili dekade 2020-an? Tentu saja Dirty Ass asal Tangerang. Distopia adalah album penuh ketiga mereka…” – Wastedrockers
Comments (0)